<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193</id><updated>2012-01-02T22:32:39.859-08:00</updated><category term='PEMBELIAN TIKET PESAWAT ONLINE'/><category term='http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd'/><category term='alumni'/><category term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><category term='Macam-Macam Metode Pembelajaran'/><category term='KANTOR PELAYANAN PERIZINANTERPADU (KP2T) KABUPATEN BALANGAN'/><category term='Perkuliahan'/><title type='text'>http://slametno.blogspot.com</title><subtitle type='html'>wong solo (Alumni SMTP Boyolali, AMIK BSI Jakarta, STKIP PGRI Banjarmasin)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-364005642623763043</id><published>2010-07-21T03:29:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T03:30:00.295-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Macam-Macam Metode Pembelajaran'/><title type='text'>Macam-macam Metode Pembelajaran</title><content type='html'>erything Else &gt; Education &amp; Learning (Macam-macam Metode Pembelajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah macam-macam metode pembelajaran, semoga isinya bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Problem Solving&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Problem Posing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Probing-prompting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Reciprocal Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weinstein &amp; Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. SAVI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. TGT (Teams Games Tournament)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. TAI (Team Assisted Individualy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. STAD (Student Teams Achievement Division)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. NHT (Numbered Head Together)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Jigsaw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. TPS (Think Pairs Share)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. GI (Group Investigation)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. MEA (Means-Ends Analysis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. CPS (Creative Problem Solving)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. TTW (Think Talk Write)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. MID (Meaningful Instructionnal Design)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. KUASAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. CRI (Certainly of Response Index)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. DLPS (Double Loop Problem Solving)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. IOC (Inside Outside Circle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Tari Bambu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Artikulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Debate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Role Playing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Talking Stick&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-364005642623763043?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/364005642623763043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/07/macam-macam-metode-pembelajaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/364005642623763043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/364005642623763043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/07/macam-macam-metode-pembelajaran.html' title='Macam-macam Metode Pembelajaran'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-6533777810363591130</id><published>2010-05-26T22:41:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T22:45:03.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd'/><title type='text'>http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4G0QNbLtI/AAAAAAAAAF4/tocAI-fZTlc/s1600/logogaruda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 106px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4G0QNbLtI/AAAAAAAAAF4/tocAI-fZTlc/s320/logogaruda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475821691703340754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dapatkan bisnis riil (bukan tipu-tipuan) dengan pendapatan menakjukkan dengan klik http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-6533777810363591130?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/6533777810363591130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/httpwwwbisnis-tiket-pesawatcomidslametn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/6533777810363591130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/6533777810363591130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/httpwwwbisnis-tiket-pesawatcomidslametn.html' title='http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4G0QNbLtI/AAAAAAAAAF4/tocAI-fZTlc/s72-c/logogaruda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-5072479100591989880</id><published>2010-05-26T22:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T22:33:54.757-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBELIAN TIKET PESAWAT ONLINE'/><title type='text'>Booking Garuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4EOiwtKgI/AAAAAAAAAFI/raiEMmPsOiw/s1600/logogaruda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 106px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4EOiwtKgI/AAAAAAAAAFI/raiEMmPsOiw/s320/logogaruda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475818844824873474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;untuk mendapatkan tiket pesawat garuda dengan harga murah silahkan klik http://www.bisnis-tiket-pesawat.com/?id=slametnospd&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-5072479100591989880?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/5072479100591989880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/booking-garuda.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5072479100591989880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5072479100591989880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/booking-garuda.html' title='Booking Garuda'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S_4EOiwtKgI/AAAAAAAAAFI/raiEMmPsOiw/s72-c/logogaruda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-7370268275404983460</id><published>2010-05-25T21:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T21:41:02.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Peningkatan Pemahaman Tentang  Materi  Penjumlahan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Siswa Kelas I SD Negeri Kasai</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang&lt;br /&gt;Kualitas kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan (Nurhadi dan Senduk, 2003). Pendidikan yang diselenggarakan harus mampu mencetak sumber daya manusia yang lebih siap untuk terjun dan berperan aktif dalam kehidupan nyata. konkretnya pendidikan itu harus mampu menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang mampu melayani dirinya sendiri dan orang lain serta dapat mengisi dan berperan aktif di bcrbagai sendi kehidupan secara kompetitif. &lt;br /&gt;Setiap sistem pendidikan yang diselenggarakan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Apalagi bila dikaitkan dengan kehidupan nyata yang terus berubah. Sistem pendidikan harus adaptif agar dapat menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan perubahan zaman. Gambaran tentang kondisi pendidikan yang telah diselenggarakan selama ini dapat diketahui sebagaimana dikemukakan Depdiknas dalam Nurhadi dan Senduk (2003: 3) bahwa:&lt;br /&gt;“Sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan/ dimanfaatkan. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mercka sangat butuh untuk memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat kerja dan masyarakat pada umumnya dinama mereka akan hidup dan bekerja”.&lt;br /&gt;Sejauh ini pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pandangan bahwa pcngetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar `baru' yang lebih mempcrdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Melalui landasan filosofi konstruktivisme, Contextual Teaching And Learning (CTL) dipromosikan menjadi alternative belajar yang baru. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar melalui mengalami, bukan menghapal (Depdiknas. 2002: 2).&lt;br /&gt;Kondisi konkret di tempat penelitian (SD Negeri Kasai), menunjukkan bahwa keinginan guru agar hasil belajar meningkat ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, sebab kenyataannya dari hasil evaluasi menunjukkan bahwa hasil belajar Matematika yang diperoleh siswa masih rendah. Siswa kelas I SDN Kasai  selama ini kurang aktif dalam proses pembelajaran, sebagian besar siswa tidak memahami materi yang disampaikan oleh guru. Kondisi tersebut menyebabkan guru Matematika prihatin karena tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan belum tercapai.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan hasil belajar penjumlahan dapat ditempuh dengan memberikan contoh media yang sesuai dengan penjumlahan dan kontek penjumlahan. Pendekatan yang sesuai adalah CTL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kondisi pendidikan di Indonesia khususnya dan pandangan-pandangan beberapa ahli di atas, serta kondisi konkret pada SD Negeri Kasai yang prestasi belajarnya pada tahun sebelumnya tidak menunjukkan peningkatan yang optimal, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Peningkatan Pemahaman Tentang  Materi  Penjumlahan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Siswa Kelas I SD Negeri Kasai Balangan Tahun Ajaran 2009/2010” &lt;br /&gt;1.2  Rumusan Masalah &lt;br /&gt;permasalahan yang akan diteliti adalah:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah pendekatan CTL dapat meningkatkan Pemahaman siswa kelas I SD Negeri Kasai pada Materi Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20 dengan menggunakan pendekatan CTL?&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah respon siswa kelas I setelah mendapatkan pembelajaran Materi Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20 menggunakan pendekatan CTL?&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Secara umum tujuan penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Meningkatan pemahaman siswa pada Materi Penjumlahan Sampai dengan 20 menggunakan pendekatan CTL pada SD Negeri Kasai. &lt;br /&gt;2. Meningkatkan respon/sikap siswa Kelas I dan guru Matematika SDN Kasai tentang Penjumlahan Sampai dengan 20 dengan menggunakan pendekatan CTL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4  Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Bagi siswa, yaitu dapat meningkatkan pemahamannya, khususnya terhadap materi  Penjumlahan Sampai dengan 20.&lt;br /&gt;2) Bagi sekolah, sebagai bahan referensi sehingga dapat dipelajari oleh guru-guru maupun pihak lain dikemudian hari.&lt;br /&gt;3) Bagi guru, yaitu sebagai bahan informasi dan bahan kajian untuk dapat meningkatkan kemampuan mengajar.&lt;br /&gt;4) Bagi peneliti, merupakan pengalaman berharga dalam pengembangan keilmuan untuk selanjutnya dapat digunakan dalam pembelajaran apabila terjun langsung sebagai pendidik&lt;br /&gt;1.5  Definisi Istilah&lt;br /&gt;(a) Pemahaman siswa kelas I SD Negeri Kasai ditunjukkan dengan hasil belajar pada materi Penjumlahan &lt;br /&gt;(b) Materi penjumlahan di kelas I adalah Penjumlahan Sampai dengan 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Pengertian Belajar dan Mengajar&lt;br /&gt;Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (1998: 84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:&lt;br /&gt;a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. &lt;br /&gt;b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.&lt;br /&gt;c. untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;Mengajar merupakan proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. banyak kegiatan maupun tindakan harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biggs (1991), membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu : &lt;br /&gt;a. Pengertian Kuantitatif dimana mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar. &lt;br /&gt;b. Pengertian institusional yaitu mengajar berarti . the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat , kemampuan dan kebutuhannya.&lt;br /&gt;c. Pengertian kualitatif dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. &lt;br /&gt;Menurut Slameto (1995: 29) mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Adapun defenisi lain di negara-negara modern yang sudah maju mengatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Defenisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajar didefinisikan oleh Sudjana (2000: 37) sebagai alat yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin.&lt;br /&gt;2.2  Pembelajaran Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning )&lt;br /&gt;Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar di mana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2002:1).&lt;br /&gt;  Dewey dalam Ibrahim (2000: 16) menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan yang mana sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat  yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan nyata. pada bagian lain dikemukakan bahwa pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses beiajar agar kelas lebih `hidup' dan lebih 'bernakna' karena siswa `mengalami' sendiri apa yang dipelajarinya (Nurhadi dan Senduk, 2003: 5). &lt;br /&gt;Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kontekstual, di antaranya menurut .johnson dalam Nurhadi dan Senduk (2003: 12) bahwa sistem CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.&lt;br /&gt;TEACHNET (Nurhadi dan Senduk, 2003: 2) mengemukakan pernyataan penting tentang CTL bahwa pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pela.jaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan pekerja serta meminta ketekunan belajar. Pembelajaran kontekstual (Contextual Learning) berlangsung bilamana para siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan mengacu kepada permasalahan rill yang bersangkut paut dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa maupun pekerja (Corebima, dkk, 2002 : 18).&lt;br /&gt;Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.&lt;br /&gt;CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3  Penerapan CTL dalam pembelajaran&lt;br /&gt;Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.&lt;br /&gt;Menurut  Nurhadi dan Senduk (2003: 31) ada tujuh komponen utama , Pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructioism), bertanya (Questioning), Menentukan (inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi(Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic assesment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika ketujuh komponcn tersebut dalam pembelajarannya. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.&lt;br /&gt;a. Konstruktivisme (constructioism)&lt;br /&gt;Konstruktivisme (constructioism) merupakan landasan berpikir (filosofi) mempelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun manusia &lt;br /&gt;sedikit demi sedikit  yang hasilnya diperluas rnelalui konteks yang tcrbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi Pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.&lt;br /&gt;b. Menentukan (inquiry)&lt;br /&gt;Inquiry  pada dasarnya adalah suatu ide yang kompleks, yang berarti banyak hal, ,dalam banyak banyak konteks (a complex idea that means many  things to many people in many contexts). lnkuiri adalah bertanya. Bertanya yang baik, bukan asal bertanya. pertanyaan harus berhubungan dengan apa yang dibicarakan. pertanyaan yang diajukan harus dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya. pertanyaan harus dapat diuji dan diselidiki secara bermakna.&lt;br /&gt;c. bertanya (questioning)&lt;br /&gt;bertanya (questioning) adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, dari pengetahuan. jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran. Orang bertanya karena ingin tahu, menguji, mengkonfrmasi, mengarahkan/menggiring, mengaktifkan skemata, men-judge, mengklasikasi, memfokuskan, dan menghindari kesalahpahaman.&lt;br /&gt;d. Masyarakat Belajar (Learning community)&lt;br /&gt;Dalam masyarakat belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, antara mereka  tahu ke mereka yang belum tahu.&lt;br /&gt;e. Permodelan (Modeling)&lt;br /&gt;Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang, bisa ditiru pemodelan pada dasarnya pembahasan yang dipikirkan, rnendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan  agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk  demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu,cara mengerjakan sesuatu dan sebagainya. Dengan begitu, guru rnemberi model tentang "bagaimana cara belajar''.&lt;br /&gt;f. Refleksi ( Reflection)&lt;br /&gt;Refleksi juga bagian  pcnting dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yanr baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.&lt;br /&gt;g. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)&lt;br /&gt;Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasi bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan  yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kcgiatan evaluasi hasil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar (seperti UAN), tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisah) dari kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt; Nur dalam Ibrahim (2002: 6) mengemukakan bahwa asesmen autentik memiliki ciri sebagai berikut: -&lt;br /&gt;a. Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa&lt;br /&gt;b. Mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan&lt;br /&gt;c. Penilaian terhadap produk dan kinerja&lt;br /&gt;d. Tugas -tugas kontekstual dan relevan&lt;br /&gt;e. Proses dan produk, dua-duanya dapat diukur.&lt;br /&gt;Menurut Sanjaya (2005:124-125) Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan C T L guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;a. Pendahuluan&lt;br /&gt;1) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta man¬faat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.&lt;br /&gt;2) Guru nienjelaskan prosedur pembelajaran CTL:&lt;br /&gt;• Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;&lt;br /&gt;• Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi.&lt;br /&gt;3) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerja¬kan oleh setiap siswa.&lt;br /&gt;b. Inti&lt;br /&gt;     Dilapangan&lt;br /&gt;1) siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.&lt;br /&gt;2) Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di lapangan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.&lt;br /&gt;      Di dalam Kelas&lt;br /&gt;1) Siswa mendiskusikan hasil diskusi mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.&lt;br /&gt;2) Siswa melaporkan hasil diskusi.&lt;br /&gt;3) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.&lt;br /&gt;c. Penutup&lt;br /&gt;1) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah yangdibahas sesuai dengan indikakor hasil belajar yang harus dicapai.&lt;br /&gt;2.4  Materi Penjumlahan bilangan sampai dengan 20&lt;br /&gt;1. Penjumlahan sampai dengan 10 &lt;br /&gt;     a. Penjumlahan dua bilangan satu angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penjumlahan dengan cara &lt;br /&gt;perhatikan contoh berikut &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari punya bola bekel empat butir&lt;br /&gt;ia membeli lagi satu butir &lt;br /&gt;berapa bola bekel ari sekarang&lt;br /&gt; jawab&lt;br /&gt;4 bola bekel  4&lt;br /&gt;1 bola bekel + atau 1&lt;br /&gt;5 bola bekel    5&lt;br /&gt;bola bekel ari sekarang 5 butir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rima memiliki enam buah permen &lt;br /&gt;diberi bibi dua permen&lt;br /&gt;berapa permen rima sekarang jawab&lt;br /&gt;6 permen 6&lt;br /&gt;2 permen  +      atau 2 +&lt;br /&gt; 8 permen                           8&lt;br /&gt;permen rima sekarang ada 8 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penjumlahan dengan hasil 20 &lt;br /&gt;a. penjumlahan dua angka dengan satu angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 10   +    1      =            11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           …………..                  +     ….     =  …………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;………                        +      …….   = …………………..              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penjumlahan dengan cara bersusun&lt;br /&gt;amati contoh berikut ini:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Djaelani, Haryono, 2008 :  46-57)&lt;br /&gt;Pendekatan Contextual Teaching And Learning dapat  dilakukan dengan membuat soal yang dihubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, dan yang ada disekelilingnya. (bandono,2008)&lt;br /&gt;2.5 Evaluasi ( Tagihan)&lt;br /&gt;Untuk mengevaluasi hasil belaar diperlukan tagihan kepada siswa untuk mengetahui pengusaan materi yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;Jenis tagihan yang dapat dilakukan adalah:&lt;br /&gt;2.5.1 Ulangan harian&lt;br /&gt;ulangan harian umumnya diberukan setelah selesainya satu materi pembelajaran tertentu. soal yang diberikan sebaiknya bentuk uraian objektif untuk mengukur pengetahuan, pemahaman dan kemampuan berpikir aplikatif.&lt;br /&gt;2.5.2. Tugas Kelompok&lt;br /&gt;Tugas kelompok dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa dalam mengembangkan kompetensi kerja kelompok. tugas biasanya berbentuk soal uraian tingkat berpikir aplikatif.&lt;br /&gt;2.5.3. Kuis&lt;br /&gt;Kuis merupakan tes yang embutuhkan waktu singkat. pertanyaan hanya merupakan hal yang prinsip saja dan bentuk jawaban merupakan isi yang singkat., Kuis biasanya dilakukan sebelum pelajaran dimulai untuk mengetahui pengusaan pelajaran yang lalu secara singkat atau setelah akhir sajian.&lt;br /&gt;2.5.4. Ulangan blok&lt;br /&gt;Ulangan blok dilakukan setelah siswa mengusai 1-3 kompetensi dasar. Kompetensi yang diujikan disusn berdasarkan kisi-kisi soal. soal dapat berbentuk uraian objektif atau campuran pelihan ganda dan uraian objektif. soal ini menuntut tingkat berfikir yang berkaitan dengan aspek pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.&lt;br /&gt;2.5.5. Pertanyaan Lisan&lt;br /&gt;Pertanyaan yang diberikan berupa pengetahuan atau pemahaman tentang konsep. Teknik bertanya dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada seluruh kelas, dan siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan jawaban dan secara acak menunjuk salah satu siswa untuk memjawab.Jawaban salah satu siswa dilemparkan kepada siswa lain untuk memberikan pendapatnya tentang jawaban siswa pertama. Pada akhirnya kegiatan test ini guru memberikan kesimpulan akan jawaban yang benar.&lt;br /&gt;2.5.6. Tugas Individu&lt;br /&gt;Tugas ini dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa untuk mengembangkan wawasan dan kompetensi berfikir. tugas biasanya berbentuk soal uraian objektif dengan tingkat berfikir aplikatif. Tugas ini dapat berupa portofolio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Waktu dan Tempat Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini memerlukan waktu dua bulan,  dan tempat penelitian ditetapkan di SD Negeri  Kasai Kecamatan Batumandi Kabupaten Balangan.&lt;br /&gt;3.2  Subjek Penelitian&lt;br /&gt;Subjek dalam penelitian ini adalah Guru dan siswa kelas I SD Negeri Kasai  Pada kelas ini diberikan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL). &lt;br /&gt;3.3 Prosedur Penelitian&lt;br /&gt;a. Metode penelitian&lt;br /&gt;Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas,  yaitu suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan kea rah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. (Suhardjono, 2006 : 105).&lt;br /&gt;b. Rancangan Penelitian&lt;br /&gt;Pada dasarnya desain penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). dengan demikian prosedur langkah-langkah pelaksanaan penelitian ini mengikuti langkah-langkah dasar penelitian tindakan yang umum dilakukan. Dalam PTK ini peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap problem secara sistematis. Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut (Wibawa, 2003: 9).&lt;br /&gt;Menurut Lewin yang dikutip Kemmis dan Mc Taggar dalam Wasis, dkk (2002 :4) bahwa Penelitian Tindakan Kelas memiliki empat tahap dasar yang saling terkait dan berkesinambungan, yaitu Planning (Rencana), Action (Tindakan), observation (Pengamatan), dan Reflection (Refleksi).&lt;br /&gt;Penelitian ini dirancang dalam 2 siklus:&lt;br /&gt;        a. Siklus I&lt;br /&gt;1) Perencanaan tindakan (Planning)&lt;br /&gt;Sebelum dilaksanakan penelitian, perlu dilakukan berbagai persiapan sehingga semua kornponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh adalah:&lt;br /&gt;a) Membuat rencana atau skenario pembelajaran yang berisi langkah-langkah yang dilakukan guru dan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa.&lt;br /&gt;b) Mempersiapkan sarana pendukung kegiatan belajar mengajar, seperti gambar¬gambar dan alai peraga.&lt;br /&gt;c) Membuat lembar obseryasi untuk merekam pelaksanaan tindakan.&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus 1 kali pertemuan dengan desain seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;             ( Suhardjono, 2008 : 74)&lt;br /&gt;2) Pelaksanaan tindakan (Action)&lt;br /&gt;Tahap ini merupakan implementasi atau pelaksanaan dari semua rencana yang telah dibuat.tahap ini berlangsung di dalam kelas, merupakan realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang sudah dipersiapkan sebelumnya (Wibawa :2003: 28).&lt;br /&gt;Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru (bersama peneliti, apabila PTK-nya tidak dilakukan sendiri oleh guru) menentukan rancangan untuk siklus kedua.&lt;br /&gt;3) Pengamatan tindakan (Observation)&lt;br /&gt;Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil instruksional yang dikumpulkan dengan lembar observasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Refleksi terhadap tindakan (Reflection)&lt;br /&gt;Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada saat dilakukan pengamatan (observasi). Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis (Wibawa, 2003: 29).&lt;br /&gt;Dengan suatu refleksi yang tepat akan menjadi dasar yang penting untuk perbaikan perencanaan atau skenario tindakan selanjutnya. Demikian seterusnya, sehingga keempat tahapan. PTK ini membentuk siklus berkesinambungan. &lt;br /&gt;b. Siklus II&lt;br /&gt;Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya apabila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan atau untuk meyakinkan/menguatkan hasil. Akan tetapi, umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama. ( Suhardjono, 2008 : 74-75)&lt;br /&gt;3.4  Teknik pengumpulan data&lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi:&lt;br /&gt;1) Observasi : Teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai aktivitas belajar siswa dan gejala-gelaja yang mungkin muncul pada tingkah laku siswa pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Observasi dilakukan dengan mcnggunakan instrumen pengamatan berupa lembar observasi yang terdiri atas lembar observasi terstruktur dan lembar observasi sistematis (Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999; 8l )&lt;br /&gt;2) Tes : Dalam hal ini peneliti berkolaborasi dengan observer, hasil pengamatan berdasarkan format observer untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapai siswa sebeium dan sesudah mengikuti pembelajaran serta data untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan tindakan sekaligus mengukur tingkat pemahaman siswa pada konsep yang dipelajari, tes yang digunakan berupa tes formatif.&lt;br /&gt;3.5  Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: &lt;br /&gt;1) Analisis kualitatif&lt;br /&gt;Teknik analisis ini disesuaikan dengan ketercapaian indikator dalam CTL dengan skala 1 -4, untuk menganalisis hasil observasi keaktifan siswa dan gejala-gejala yang timbul pada saat mengikuti pembelajaran dan hasil kuesioner terhadap sikap dan pendapat siswa terhadap kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;2) Teknik persentase&lt;br /&gt;Teknik ini digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa berupa hasil tes yang diberikan. Analisis data diawali dengan kegiatan penskoran terhadap sejumlah pertanyaan atau soal yang diajukan. Selanjutnya skor yang diperoleh dianalisis dengan sistem penilaian agar diketahui tingkat pemahaman atau ketuntasan belajar siswa pada konsep. Rumus yang digunakan (Depdiknas, 2002a: 110) adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil analisis skor ini berupa nilai standar dengan skala 1 - 10 dengan batas minimal kelulusan siswa adalah nilai 6,5 atau 65% dari nilai ideal (10), yaitu taraf penguasaan minimal ketuntasan belajar secara perorangan (Depdikbud, 1994: 2). Sedangkan untuk mengetahui persentase ketuntasan belajar secara kelompok, dimana telah ditentukan sebelumnya bahwa ketuntasan belajar secara kelompok minimal 85% dari jumlah siswa, menggunakan rumus (Depdikbud, 1994: 7):&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Hasil Penelitian&lt;br /&gt;4.1.1 Pelaksanaan Tindakan Siklus I &lt;br /&gt;(1)  Perencanaan&lt;br /&gt;Pembelajaran yang telah direncanakan pada tindakan kelas siklus I ini, akan dipersiapkan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;a. Menyusun jadwal kegiatan pembelajaran tindakan kelas siklus I pertemuan ke 1 yaitu pada tanggal 2 Juli 2009 jam ke 1 dan 2, pertemuan ke 2 tang¬gal 3 Juli  2009  jam ke 1 dan 2, dikelas I.&lt;br /&gt;b. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran materi "Penjumlahan bilangan sampai dengan 20 dengan sub materi penjumlahan sampai 5 dan 10".&lt;br /&gt;c. Menyiapkan LKS&lt;br /&gt;d. Menyusun alat evaluasi pre test dan pos test dengan test tertulis. &lt;br /&gt;(2) Pelaksanaan Tindakan  &lt;br /&gt; a. Tindakan Kelas Pertemuan ke 1 (2 x 35 menit)&lt;br /&gt;l. Pendahuluan&lt;br /&gt;a. Guru melakukan kontruktivisme pada siswa melalui bertanya kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan penjumlahan. &lt;br /&gt;2. Kegiatan inti&lt;br /&gt;a. guru melakukan kegiatan menentukan dan bertanya pada siswa dengan mengadakan Tanya jawab dengan siswa tentang penjumlahan sampai dengan 20 untuk menciptakan suatu masyarakat belajar siswa diperbolehkan saling berdiskusi.&lt;br /&gt;b. guru melakukan pemodelan dengan cara mengajak siswa melakukan pengamatan terhadap benda-benda sekitar yang sejenis, kemudian dihubungkan dengan materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;c. guru mengajak siswa berkomunikasi dengan  memberi kesempatan siswa untuk mengemukan pendapatnya mengenai materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;d. guru melakukan refleksi dengan memberikan tantangan kepada siswa untuk membuat kesimpulan materi.&lt;br /&gt;e.  Guru melakukan penilaian yang sebenarnya dengan menyuruh siswa mengerjakan soal tes akhir &lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt;a. Bersama siswa menyimpulkan yang telah dipelajari&lt;br /&gt;b. Tindakan Kelas Pertemuan  ke 2 (2 x 35 rnenit)&lt;br /&gt;l. Pendahuluan&lt;br /&gt;a. Guru melakukan kontruktivisme pada siswa melalui bertanya kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan penjumlahan. &lt;br /&gt;2. Kegiatan inti&lt;br /&gt;a. guru melakukan kegiatan menentukan dan bertanya pada siswa dengan mengadakan Tanya jawab dengan siswa tentang penjumlahan sampai dengan 20 untuk menciptakan suatu masyarakat belajar siswa diperbolehkan saling berdiskusi.&lt;br /&gt;b. guru melakukan pemodelan dengan cara mengajak siswa melakukan pengamatan terhadap benda-benda sekitar yang sejenis, kemudian dihubungkan dengan materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;c. guru mengajak siswa berkomunikasi dengan  memberi kesempatan siswa untuk mengemukan pendapatnya mengenai materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;d. guru melakukan refleksi dengan memberikan tantangan kepada siswa untuk membuat kesimpulan materi.&lt;br /&gt;e.  Guru melakukan penilaian yang sebenarnya dengan menyuruh siswa mengerjakan soal tes akhir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt;a. Bersama siswa menyimpulkan yang telah dipelajari&lt;br /&gt; (3)  Observasi dan Evaluasi (Observation)&lt;br /&gt;(a) Observasi Tes Hasil belajar&lt;br /&gt;Data hasil belajar siswa meliputi hasil post test pada siklus 1 berdasarkan ketuntasan individualnya seperti pada tabel berikut :&lt;br /&gt;       Tabel 3. Hasil Belajar Post test Siklus 1&lt;br /&gt;SIKLUS NILAI HASIL POST TES&lt;br /&gt; RATA-RATA NILAI KETUNTASAN KLASIKAL %&lt;br /&gt;Pertemuan ke 1 63.13 37.5&lt;br /&gt;Pertemuan ke 2&lt;br /&gt;66.25 62.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Hasil Belajar Post test Siklus I&lt;br /&gt; Pemahaman siswa pada siklus 1 dilihat dari gambar 2 menunjukkan pemahaman siswa belum mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan secara klasikal, pertemuan ke 1 adalah: 37.5% dan pertemuan ke 2 adalah 62.5%. Nilai post test yang masih rendah ini dikarenakan siswa belum memahami hakikat pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning yang dapat memotivasi belajarnya untuk mencapai hasil belajar yang baik. Sehingga mereka tidak begitu antusias dalam belajar dan tidak menguasai sepenuhnya materi yang diajarkan. Namun dari pertemuan ke 1 dan ke 2 sudah nampak adanya peningkatan hasil belajar yang diperolehnya.&lt;br /&gt;(b) Respon siswa terhadap pembelajaran dengan Contextual Teaching And Learning .&lt;br /&gt;Data kuantitatif tentang respon siswa dalam pembelajaran dengan Contextual Teaching And Learning pada materi penjumlahan sampai dengan 20 dengan sub materi penjumlahan sampai dengan 5 dan 10 dapat dikategorikan cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4. Presentase Respon Siswa Terhadap KBM Siklus I&lt;br /&gt;No Uraian KBM Ya % Tidak %&lt;br /&gt; Apakah kamu mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;Apabila kamu merasa mengerti, hal apakah yang menjadikan kamu mengerti mengikuti kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontekstual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah membuat kamu tidak mengerti, hal apakah yang membuat kamu tidak mengerti.&lt;br /&gt;•  Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontektual  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25  4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12  25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt; Menurut kamu, apakah kegiatan belajar mengajar seperti yang dilakukan ini baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal apakah yang menurut kamu baru dalam kegiatan belajar dengan Contextual Teaching And Learning ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/pendekatan lingkungan&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kegiatan belajar mengajar ini menurut kamu tidak baru, hal apakah yang tidak baru dalam kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontekstual&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Refleksi Tindakan Siklus I&lt;br /&gt;Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2009 selesai kegiatan pembelajaran kooperatif dilaksanakan. Berdasarkan hasil tes prestasi belajar, dapat dinyatakan bahwa kegiatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning pada siklus I belum berhasil dengan baik karena belum mencapai ketuntasan klasikal yang ditentukan. &lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning telah terlihat lebih baik daripada pembelajaran sebelum menerapkan Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning. &lt;br /&gt;Data kuisioner respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dibagikan guru pada akhir siklus I, masih ada 25% siswa belum mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan Contextual Teaching And Learning.&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan diatas, Kegiatan pembelajaran pada siklus I ini belum berhasil  dikarenakan siswa yang mendapatkan nilai &gt; 65 kurang dari 85% dan respon siswa terhadap pembelajaran ini belum semua siswa mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan Contextual Teaching And Learning maka pembelajaran ini perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya (Siklus II). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II &lt;br /&gt;(1)  Perencanaan&lt;br /&gt;Pembelajaran yang telah direncanakan pada tindakan kelas siklus II ini, akan dipersiapkan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;a. Menyusun jadwal kegiatan pembelajaran tindakan kelas siklus II pertemuan ke 1 yaitu pada tanggal 8 Juli 2009 jam ke 1 dan 2, pertemuan ke 2 tang¬gal 9 Juli  2009  jam ke 1 dan 2, dikelas I.&lt;br /&gt;b. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran materi "Penjumlahan bilangan sampai dengan 20 dengan sub materi penjumlahan sampai 15 dan 20".&lt;br /&gt;c. Menyiapkan LKS&lt;br /&gt;d. Menyusun alat evaluasi pre test dan pos test dengan test tertulis. &lt;br /&gt;(2) Pelaksanaan Tindakan  &lt;br /&gt; a. Tindakan Kelas Pertemuan ke 1 (2 x 35 menit)&lt;br /&gt;. Pendahuluan&lt;br /&gt;a. Guru melakukan kontruktivisme pada siswa melalui bertanya kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan penjumlahan. &lt;br /&gt;2. Kegiatan inti&lt;br /&gt;a. guru melakukan kegiatan menentukan dan bertanya pada siswa dengan mengadakan Tanya jawab dengan siswa tentang penjumlahan sampai dengan 20 untuk menciptakan suatu masyarakat belajar siswa diperbolehkan saling berdiskusi.&lt;br /&gt;b. guru melakukan pemodelan dengan cara mengajak siswa melakukan pengamatan terhadap benda-benda sekitar yang sejenis, kemudian dihubungkan dengan materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;c. guru mengajak siswa berkomunikasi dengan  memberi kesempatan siswa untuk mengemukan pendapatnya mengenai materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;d. guru melakukan refleksi dengan memberikan tantangan kepada siswa untuk membuat kesimpulan materi.&lt;br /&gt;e.  Guru melakukan penilaian yang sebenarnya dengan menyuruh siswa mengerjakan soal tes akhir &lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt;a. Bersama siswa menyimpulkan yang telah dipelajari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tindakan Kelas Pertemuan  ke 2 (2 x 35 rnenit)&lt;br /&gt;. Pendahuluan&lt;br /&gt;a. Guru melakukan kontruktivisme pada siswa melalui bertanya kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan penjumlahan. &lt;br /&gt;2. Kegiatan inti&lt;br /&gt;a. guru melakukan kegiatan menentukan dan bertanya pada siswa dengan mengadakan Tanya jawab dengan siswa tentang penjumlahan sampai dengan 20 untuk menciptakan suatu masyarakat belajar siswa diperbolehkan saling berdiskusi.&lt;br /&gt;b. guru melakukan pemodelan dengan cara mengajak siswa melakukan pengamatan terhadap benda-benda sekitar yang sejenis, kemudian dihubungkan dengan materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;c. guru mengajak siswa berkomunikasi dengan  memberi kesempatan siswa untuk mengemukan pendapatnya mengenai materi Penjumlahan sampai dengan 20&lt;br /&gt;d. guru melakukan refleksi dengan memberikan tantangan kepada siswa untuk membuat kesimpulan materi.&lt;br /&gt;e.  Guru melakukan penilaian yang sebenarnya dengan menyuruh siswa mengerjakan soal tes akhir &lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt;a. Bersama siswa menyimpulkan yang telah dipelajari&lt;br /&gt; (3)  Observasi dan Evaluasi (Observation)&lt;br /&gt;(a) Observasi Tes Hasil belajar&lt;br /&gt;Data hasil belajar siswa meliputi hasil post test pada siklus II berdasarkan ketuntasan individualnya seperti pada tabel berikut :&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tabel 5. Hasil Belajar Post test Siklus II&lt;br /&gt;SIKLUS NILAI HASIL POST TES&lt;br /&gt; RATA-RATA NILAI KETUNTASAN KLASIKAL %&lt;br /&gt;Pertemuan ke 1 66.87 68.75&lt;br /&gt;Pertemuan ke 2&lt;br /&gt;70 87.50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3. Hasil Belajar Post test Siklus II&lt;br /&gt; Pemahaman siswa pada siklus II dilihat dari gambar 3 menunjukkan pemahaman siswa pada pertemuan 2 telah  mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan secara klasikal, pertemuan ke 1 adalah: 68.75% dan pertemuan ke 2 adalah 87.50%. Nilai post test yang cukup tinggi  ini dikarenakan siswa sudah mulai  memahami hakikat pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning yang dapat memotivasi belajarnya untuk mencapai hasil belajar yang baik. Sehingga mereka begitu antusias dalam belajar dan menguasai materi yang diajarkan. serta dari pertemuan ke 1 dan ke 2 sudah nampak adanya peningkatan hasil belajar yang diperolehnya.&lt;br /&gt; (b) Respon siswa terhadap pembelajaran dengan Contextual Teaching And Learning .&lt;br /&gt;Data kuantitatif tentang respon siswa dalam pembelajaran dengan Contextual Teaching And Learning pada materi penjumlahan sampai dengan 20 dengan sub materi penjumlahan sampai dengan 15 dan 20 dapat dikategorikan baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:&lt;br /&gt;Tabel 6. Presentase Respon Siswa Terhadap KBM Siklus II&lt;br /&gt;No Uraian KBM Ya % Tidak %&lt;br /&gt; Apakah kamu mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;Apabila kamu merasa mengerti, hal apakah yang menjadikan kamu mengerti mengikuti kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontekstual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah membuat kamu tidak mengerti, hal apakah yang membuat kamu tidak mengerti.&lt;br /&gt;•  Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontektual  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt; Menurut kamu, apakah kegiatan belajar mengajar seperti yang dilakukan ini baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal apakah yang menurut kamu baru dalam kegiatan belajar dengan Contextual Teaching And Learning ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/pendekatan lingkungan&lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kegiatan belajar mengajar ini menurut kamu tidak baru, hal apakah yang tidak baru dalam kegiatan belajar mengajar ini ?&lt;br /&gt;• Materi pelajarannya&lt;br /&gt;• Bahan tertulisnya&lt;br /&gt;• Peralatan dan bahan ajarnya (LKS)&lt;br /&gt;• Suasana lingkungan belajar di luar  kelas/kontekstual&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;• Penampilan guru dalam mengajar 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Refleksi Tindakan Siklus II&lt;br /&gt;Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2009 selesai kegiatan pembelajaran kooperatif dilaksanakan. Berdasarkan hasil tes prestasi belajar, dapat dinyatakan bahwa kegiatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning pada siklus II sudah berhasil dengan baik karena sudah mencapai ketuntasan klasikal yang ditentukan. &lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran Contextual Teaching And Learning telah meningkatkan pemahaman siswa tentang materi penjumlahan sampai 20. &lt;br /&gt; Data kuisioner respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dibagikan guru pada akhir siklus I, semua siswa mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan Contextual Teaching And Learning.&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan diatas, Kegiatan pembelajaran pada siklus II ini telah  berhasil  dikarenakan siswa yang mendapatkan nilai &gt; 65 lebih dari 85% dan respon siswa terhadap pembelajaran ini semua siswa mengerti tentang materi Penjumlahan sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan Contextual Teaching And Learning maka pembelajaran ini tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya (Siklus II). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2 Pembahasan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran Contextual Teaching And Learning  terlihat adanya peningkatan pemahaman  siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel ketuntasan belajar  siswa yang dalam tiap pertemuan selalu terjadi peningkatan hingga mencapai 87.5%. Demikian pula respon siswa yang memberikan respon baik terhadap pembelajaran Contextual Teaching And Learning pada materi penjumlahan bilangan sampai dengan 20. &lt;br /&gt;Dari gambaran data tersebut di atas, maka dapatlah dinyatakan:&lt;br /&gt;(1) Pembelajaran Contextual Teaching And Learning sebagai pendekatan yang dilakukan pada proses pembelajaran matematika pada penjumlahan bilangan sampai dengan 20 semester I pada SDN Kasai  Kecamatan batumandi Kabupaten Balangan. dapat dilaksanakan dan berlangsung secara efektif sesuai yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;(2) Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman  siswa, penerapan pembelajaran Contextual Teaching And Learning dalam proses pembelajaran Matematika pada penjumlahan bilangan sampai dengan 20 semester I pada SDN Kasai  Kecamatan batumandi Kabupaten Balangan.telah menunjukkan hasil yang signifikan dan sangat memuaskan, Demikian pula dengan indikator ketuntasan belajar baik secara individual maupun secara klasikal dapat tercapai.&lt;br /&gt;(3) Berdasarkan hasil temuan dan refleksi tindakan pada siklus I tersebut maka ada peningkatan Pemahaman Tentang  Materi  Penjumlahan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Siswa Kelas I SD Negeri Kasai Balangan Tahun Ajaran 2009/2010. &lt;br /&gt;(4) Berdasarkan angket respon siswa menunjukan 100% dari 16 siswa menyatakan mengerti tentang materi Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20 yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1) Pendekatan Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkan pemahaman belajar siswa pada materi Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20. &lt;br /&gt;(2) Sikap siswa terhadap Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning pada materi Materi Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20 mendapat respon yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2  Saran&lt;br /&gt;Berdasarkan pada hasil diatas saran yang diajukan oleh peneliti sebagai guru matematika adalah:&lt;br /&gt;(1) Dengan hasil penelitian maka pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning sebaiknya digunakan dalam pembelajaran matematika. &lt;br /&gt;(2) Setiap materi yang berhubungan dengan tentang Penjumlahan bilangan Sampai dengan 20 sebaiknya menggunakan Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning karena sudah terbukti meningkatkan pemahaman siswa.&lt;br /&gt;(3) Guru hendaknya bisa mempertahankan ataupun meningkatkan kegiatan pembelajaran sehingga respon siswa terhadap pembelajaran yang baik&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali,Mohamad.1984. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Sinar Grafika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandono.2008.http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.(diakses 30 maret 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corebima,D.,Ibrahim,M.,Pratiw-i,R.,Raharjo.,Rachmadiarti,F.,Indana,S.,susilo,H., Muidi,F.,Leonita.,dan Suparno,G.2002. Pelatihan  Terintegrasi Berbasis kompetensi Guru mata Pelajaran Matematika (Pembelajaran Kontekstual). Jakarta: Direktorat SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djaelani,Haryono, 2008. Matematika untuk SD/MI Kelas .1 . Jakarta:Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humaidi Syukeri. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI. Banjarmasin:Disdik Prop.Kalsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurhadi dan Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan penerapannya Malang: UMPRESS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazir. M, 1990. Metode Penelitian. Jakarta:Ghalia Indonesia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sardiman A.M. 2001. Interaksi &amp; Motivasi Belajar mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumadi. 2002. Prinsip Penyusunan Perangkat pembelajaran dalam Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning. Jakarta: Depdiknas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG  MATERI  PENJUMLAHAN &lt;br /&gt;MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING &lt;br /&gt;SISWA KELAS I SD NEGERI KASAI BALANGAN TAHUN AJARAN 2009/2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROPOSAL&lt;br /&gt;Untuk memenuhi  persyaratan melakukan penelitian&lt;br /&gt;Dalam rangka penulisan  skripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;HELDAWATI&lt;br /&gt;NPM : 306.05.23.089&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;( STKIP PGRI ) BANJARMASIN&lt;br /&gt;JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG  MATERI  PENJUMLAHAN &lt;br /&gt;MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING &lt;br /&gt;SISWA KELAS I SD NEGERI KASAI BALANGAN TAHUN AJARAN 2009/2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;HELDAWATI&lt;br /&gt;NPM : 306.05.23.089&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetujui oleh pembimbing untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi pada tanggal …………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing I      Pembimbing II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs.Hidayah Ansori,M.Si   Dra.Hj.Zahra Chairani,M.Pd&lt;br /&gt;NIP.132002861    NIP.130355570&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui ,&lt;br /&gt;Ketua Jurusan Pendidikan Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny Nawa Trisna, M.Pd&lt;br /&gt;NIP.132312251 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• About &lt;br /&gt;• Curriculum Vitae &lt;br /&gt;• Formulir Kontak &lt;br /&gt;• Forum Diskusi &lt;br /&gt;Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)&lt;br /&gt;Jumat Wage, 7 Maret 2008 — Pendidikan &lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.&lt;br /&gt;CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Rasional&lt;br /&gt;Dalam Contextual Teaching And Learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.&lt;br /&gt;Pemikiran Tentang Belajar&lt;br /&gt;Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.&lt;br /&gt;Hakekat&lt;br /&gt;Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:&lt;br /&gt;Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.&lt;br /&gt;Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.&lt;br /&gt;Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.&lt;br /&gt;Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.&lt;br /&gt;Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.&lt;br /&gt;Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.&lt;br /&gt;Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.&lt;br /&gt;Penerapan CTL dalam pembelajaran&lt;br /&gt;Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;(STKIP PGRI)  BANJARMASIN &lt;br /&gt;Jln.Sultan Adam Komp. H.Iyus no.18 telp.(0511)360023 Banjarmasin&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;KARTU KONSULTASI SKRIPSI&lt;br /&gt;Nama     : HELDAWATI&lt;br /&gt;NPM     : 306.05.23.089&lt;br /&gt;Jurusan/Angkatan: Pendidikan Matematika / 2005&lt;br /&gt;Jenjang   : S1&lt;br /&gt;Pembimbing   I  : Drs.Hidayah Ansori,M.Si&lt;br /&gt;Judul                           : PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG  MATERI  PENJUMLAHAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA KELAS I SD NEGERI KASAI BALANGAN TAHUN AJARAN 2009/2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanggal Materi konsultasi Keterangan /Catatan Tanda Tangan&lt;br /&gt; Dosen Pembimbing&lt;br /&gt;(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Setiap konsultasi kartu ini harus dibawa oleh mahasiswa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;2. Setiap kartu konsultasi hanya berlaku 1 (satu) periode.&lt;br /&gt;3. Apabila konsultasi habis, sedangkan mahasiswa yang bersangkutan belum selesai konsultasi, maka harus segera melaporkan diri ke bagian pengajaran&lt;br /&gt;4. setiap mahasiswa tidak diperkenankan pindah dosen pembimbing&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;(STKIP PGRI)  BANJARMASIN &lt;br /&gt;Jln.Sultan Adam Komp. H.Iyus no.18 telp.(0511)360023 Banjarmasin&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;KARTU KONSULTASI SKRIPSI&lt;br /&gt;Nama     : HELDAWATI&lt;br /&gt;NPM     : 306.05.23.089&lt;br /&gt;Jurusan/Angkatan: Pendidikan Matematika / 2005&lt;br /&gt;Jenjang   : S1&lt;br /&gt;Pembimbing   II  : Dra.Hj.Zahra Chairani,M.Pd&lt;br /&gt;Judul                           : PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG  MATERI  PENJUMLAHAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA KELAS I SD NEGERI KASAI BALANGAN TAHUN AJARAN 2009/2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanggal Materi konsultasi Keterangan /Catatan Tanda Tangan&lt;br /&gt; Dosen Pembimbing&lt;br /&gt;(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Setiap konsultasi kartu ini harus dibawa oleh mahasiswa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;2. Setiap kartu konsultasi hanya berlaku 1 (satu) periode.&lt;br /&gt;3. Apabila konsultasi habis, sedangkan mahasiswa yang bersangkutan belum selesai konsultasi, maka harus segera melaporkan diri ke bagian pengajaran&lt;br /&gt;4. setiap mahasiswa tidak diperkenankan pindah dosen pembimbing&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-7370268275404983460?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/7370268275404983460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/peningkatan-pemahaman-tentang-materi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7370268275404983460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7370268275404983460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/05/peningkatan-pemahaman-tentang-materi.html' title='Peningkatan Pemahaman Tentang  Materi  Penjumlahan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Siswa Kelas I SD Negeri Kasai'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-4199748022714545265</id><published>2010-02-24T04:47:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T18:47:00.591-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KANTOR PELAYANAN PERIZINANTERPADU (KP2T) KABUPATEN BALANGAN'/><title type='text'>INSTANSI YANG MENANGANI MASALAH PELAYANAN MASYARAKAT DI KOTA BANJARMASIN DIMINTA MENIRU MODEL PELAYANAN DI KABUPATEN BALANGAN</title><content type='html'>Permintaan ini dikemukakan Ketua Komisi I DPRD Kota Banjarmasin, Eddi Yusuf kepada Abdi Persada FM kemarin. Karena berdasarkan hasil kunjungan mereka ke Balangan baru-baru ini, di sana tidak didapati petugas pelayanan yang arogan dan tidak ramah kepada masyarakat. Padahal di Balangan masyarakat yang dihadapi merupakan warga desa, yang kebanyakan kurang mengerti birokrasi.&lt;br /&gt;Di Balangan juga tidak ditemukan praktik percaloan dan pemerasan dari oknum aparat pemerintah. Menurut Eddy Yusuf di Banjarmasin seperti penerapan pelayanan perijinan terpadu, masih ditemukan beberapa keluhan warga kota Banjarmasin, yang kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Begitu juga adanya ulah oknum yang arogan dalam pembuatan KTP dan KK. (FITRI AP FM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://radioabdipersada.com/v1/?p=1326&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-4199748022714545265?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/4199748022714545265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/02/instansi-yang-menangani-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/4199748022714545265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/4199748022714545265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/02/instansi-yang-menangani-masalah.html' title='INSTANSI YANG MENANGANI MASALAH PELAYANAN MASYARAKAT DI KOTA BANJARMASIN DIMINTA MENIRU MODEL PELAYANAN DI KABUPATEN BALANGAN'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-743819015657398329</id><published>2010-01-21T23:44:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:02:57.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan IPA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lYDbEsCjI/AAAAAAAAAEA/U600__5nFY0/s1600-h/Untitled-TrueColor-02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lYDbEsCjI/AAAAAAAAAEA/U600__5nFY0/s320/Untitled-TrueColor-02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429467641602116146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Jenjang pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;Menurut Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 17 ayat 1 dan 2, Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain sederajat (Depdiknas, 2006:82).&lt;br /&gt;Materi  Energi alternatif dan cara penggunaannya bukanlah materi yang sukar, tetapi menjadi tidak mudah apabila ketika diberikan secara langsung kepada siswa dengan menggunakan penyampaian secara konseptual saja atau dengan menggunakan metode ceramah, oleh karena itu perlu dicoba dengan mengunakan model kooperatif tipe STAD. Karena model kooperatif tipe STAD memiliki kelebihan antara lain: Dalam penelitian digunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD karena memiliki keunggulan yakni: &lt;br /&gt;a. Membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas. &lt;br /&gt;b. Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapatkan nilai rendah, karena dalam pengetesan lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya. &lt;br /&gt;c. Menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama. &lt;br /&gt;d. Menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi serta menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya. &lt;br /&gt;      (Purwanti, 2008 : 27)&lt;br /&gt;Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperloleh, hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Hasil belajar disini berarti hasil belajar mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung hasil belajar fisik dan tidak nya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalakan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpulang pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan hasil belajar dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah kooperatif tipe STAD.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas maka perlu diadakan Penelitian yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar siswa terhadap konsep energi alternatif pada pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD di Kelas IV SDN Kaladan Kecamatan Paringin Selatan Kabupaten Balangan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Sehubungan dengan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :&lt;br /&gt;a. Bagaimanakah Respon siswa Kelas IV SDN Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD ?&lt;br /&gt;b. Bagaimanakah meningkatkan Hasil belajar siswa SD N Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. RENCANA PEMECAHAN&lt;br /&gt;Dari perumasan masalah diatas, maka masalah-masalah tersebut dibatasi pada:&lt;br /&gt;1. Hasil belajar siswa Kelas IV setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;2. Aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;3. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Adapun penelitian ini bertujuan untuk :&lt;br /&gt;1. Mengetahui respon siswa kelas IV SDN Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;2. Meningkatkan Hasil belajar siswa Kelas IV IPA SDN Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;Dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Bagi siswa, yaitu dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya terhadap materi  Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya.&lt;br /&gt;2) Bagi sekolah, yaitu meningkatkan kualitas PBM di Sekolah dan tingkat kelulusan Sekolah.&lt;br /&gt;3) Bagi guru, yaitu sebagai bahan informasi dan bahan kajian untuk dapat meningkatkan kemampuan mengajar.&lt;br /&gt;4) Bagi peneliti, merupakan pengalaman berharga dalam pengembangan keilmuan untuk selanjutnya dapat digunakan dalam pembelajaran apabila terjun langsung sebagai pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN TEORI&lt;br /&gt;2.1. Pengertian Belajar&lt;br /&gt;Menurut Slameto (1995 : 66) belajar adalah proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan sesama. Berdasarkan pengamatan dalam proses pembelajaran IPA tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya, penyampaian konsep IPA masih menekankankan pada konsep yang ada dalam buku yang dijadikan sebagai sumber belajar saja. Pola pembelajaran seperti ini sudah tidak sesuai lagi dan tidak akan merangsang pola berpikir anak. Salah satu pernbelajaran yang dapat merangsang pola pikir anak adalah pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD. (Yulihoney, 2009 : 3) &lt;br /&gt;2.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar&lt;br /&gt;Belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya eksternal. Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempenguhi belajar siswa penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.&lt;br /&gt;Adapun faktor-faktor yang dimaksud menurut Purwanto (2002 : 34) meliputi hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual, dan&lt;br /&gt;2. Faktor yang ada di luar individu yang disebut faktor sosial&lt;br /&gt; Yang termasuk dalam faktor individual antara lain : faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.&lt;br /&gt;2.3. Model Pembelajaran&lt;br /&gt;a. Model Pembelajaran Langsung&lt;br /&gt;Model Pembelajaran Langsung adalah Model Pembelajaran penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Model Pembelajaran ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan Model Pembelajaran langsung terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.&lt;br /&gt;b. Model Pembelajaran berdasarkan masalah&lt;br /&gt;Model Pembelajaran berdasarkan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk.&lt;br /&gt;c. Model Pembelajaran kooperatif&lt;br /&gt;Dalam Model Pembelajaran ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. &lt;br /&gt;Pendekatan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah IPA adalah dengan pendekatan kooperatif. Pembelajaran kooperatif ada beberapa jenis antara lain Ada lima ( 5 ) tipe/variasi dalam model pembelajaran kooperatif ini, yaitu: (1) Student Teams-Achievement Division (STAD) (2) Teams Games¬Tournaments (TGT) (3) Jigsaw (4) Think-Pair-Share (TPS) dan (5) Numbered  Head an together (NHT).&lt;br /&gt;. (Cecep, 2008 : 6) &lt;br /&gt;2.4. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pembelajaran artinya belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran dan mempunyai ciri-ciri, manfaat, keterampilan-keterampilan serta tipe-tipenya yaitu student team achievement divisons (STAD), team games tournament (TGT), jigsaw, penyelidikan kelompok, think pair share dan numberel head together&lt;br /&gt; STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dimana siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat Hasil belajar, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dimana pada saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.&lt;br /&gt; STAD adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat Hasil belajarnya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran IPA.&lt;br /&gt;(http://www.trisnimath.blogspot.com)&lt;br /&gt;Langkah- Langkah kegiatan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. kegiatan pendahuluan&lt;br /&gt; guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan mempresensi kehadiran siswa&lt;br /&gt; guru memberikan motivasi kepada siswa dengan bertanya Aktifitas ekonomi apa saja yang dilakukan setiap hari oleh masyarakat di desamu?&lt;br /&gt;b. Kegiatan inti '&lt;br /&gt; guru menuliskan topik pada papan tulis dan menyampaikan indikator pencapaian belajar &lt;br /&gt; guru membentuk kelompok secara heterogen&lt;br /&gt; guru memberikan lembar kerja siswa kepada semua kelompok dan memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota mengerti&lt;br /&gt; guru memberi pertanyaan kepada seluruh siswa, pada saat menjawab tidak boleh saling membantu&lt;br /&gt;C. Kegiatan penutup&lt;br /&gt;  guru mengevaluasi dengan memberikan kuis / pertanyaan &lt;br /&gt;  guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran&lt;br /&gt;(Habibatul Hairiah, 2008 : 11)&lt;br /&gt;2. 5. Materi Energi Alternatif &lt;br /&gt;Energi Alternatif&lt;br /&gt;1. Berbagai Sumber Energi Alternatif&lt;br /&gt;Sesungguhnya, alam menyediakan berbagai energi alternatif yang tidak akan habis. Energi alternatif itu antara lain dapat diperoleh dari matahari, angin, air, dan panas bumi.&lt;br /&gt;a. Matahari&lt;br /&gt;Matahari merupakan sumber energi terbesar bagi bumi. Energi yang diberikan matahari berupa energi panas dan energi cahaya. Energi panas dan energi cahaya matahari dapat langsung kita gunakan. Energi matahari dapat pula diubah dulu menjadi energi listrik, baru kemudian dipakai untuk menjalankan berbagai peralatan sehari-hari.&lt;br /&gt;Energi cahaya matahari menerangi bumi di siang hari. Energi cahaya ini dapat langsung kita nikmati. Bumi menjadi terang benderang sehingga kita tidak perlu menyalakan lampu. Tumbuhan hijau juga memanfaatkan energi cahaya untuk membuat makanannya.&lt;br /&gt;Energi cahaya matahari dapat juga diubah dulu menjadi listrik. Cahaya matahari diubah menjadi listrik oleh alat yang disebut sel surya. Sel surya dibuat dari lembaran silikon tipis. Bagian atas lembaran itu dibuat dari silikon yang sedikit berbeda dengan bagian bawah lembaran. Saat cahaya matahari jatuh mengenainya, terjadi arus listrik yang mengalir lewat kawat yang menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah. Saat ini, sel surya mulai dicoba untuk menggerakkan mobil dan pesawat terbang bertenaga matahari.&lt;br /&gt;Energi panas matahari dapat dimanfaatkan langsung, misalnya sebagai pemanas air di rumah. Panas matahari dikumpulkan dalam suatu alat yang disebut panel surya. Panel surya biasanya diletakkan di atas atap rumah. Di tempat itu, panel surya dapat menangkap panas matahari dengan lebih baik. Panel surya tersusun dari lapisan kaca, lapisan tembaga, dan pipa. Lapisan kaca merupakan bagian luar (atas). Di bawahnya ada lapisan tembaga yang dicat hitam. Tembaga merupakan penghantar panas yang baik. Demikian pula, warna hitam adalah warna yang paling kuat menyerap panas. Panas yang dikumpulkan lapisan ini akan memanaskan rangkaian pipa di bawahnya. Di dalam pipa ini ada cairan. Cairan itu ikut menjadi panas. Dengan bantuan pompa, cairan itu mengalir ke arah tertentu. Aliran panas dari cairan ini memanaskan air dalam tangki. Dengan demikian, air dalam tangki pun seluruhnya menjadi panas.&lt;br /&gt;b. Angin&lt;br /&gt;Angin yang sangat besar dapat membawa bencana. Akan tetapi, jika tenaga angin dimanfaatkan, tentu dapat menolong manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Tenaga angin sudah dimanfaatkan orang sejak zaman dahulu. Kapal layar dapat berkeliling dunia dengan hanya menggunakan energi angin. Tenaga angin juga digunakan untuk menjalankan mesin penggiling jagung dan pompa air. Kincir angin tradisional juga masih dapat ditemui di Negeri Belanda. &lt;br /&gt;Saat ini, tenaga angin dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Alat yang menghasilkan listrik dari tenaga angin ini disebut juga aerogenerator. Generator ini pada umumnya berbentuk menara. Pada puncak menara dipasang kincir atau baling-baling. Baling-baling berputar saat diterpa angin. Panjang baling-baling ada yang mencapai 20 meter. Perputaran baling-baling inilah yang menyebabkan generator menghasilkan listrik.&lt;br /&gt;Aerogenerator ini dipasang di lapangan terbuka yang sangat luas. Jumlah aerogenerator yang dipasang sangat banyak. Semakin banyak aerogenerator, semakin besar energi listrik yang dihasilkan.&lt;br /&gt;c. Air&lt;br /&gt;Air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Aliran air ini dapat digunakan sebagai sumber energi. Aliran air yang sangat deras merupakan sumber energi gerak. Energi gerak ini dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Aliran air yang makin banyak dan deras menghasilkan listrik yang makin besar.&lt;br /&gt;Pada stasiun pembangkit listrik tenaga air, air biasanya dibendung sehingga per¬mukaannya menjadi tinggi. Stasiun pem bangkit listrik tenaga air biasanya dibangun di wilayah perbukitan yang sering terjadi hujan. Air yang dibendung, posisinya jauh lebih tinggi daripada stasiun pembangkit listriknya. Air yang dibendung ini lalu dialirkan melalui terowongan yang menurun. Aliran air tersebut memutar turbin yang dihubungkan dengan generator. Generator yang berputar menghasilkan energi listrik.&lt;br /&gt;d. Panas bumi&lt;br /&gt;Bumi yang berbentuk seperti bola, sesungguhnya tersusun dad beberapa lapisan. Pusat bumi terbentuk dari lapisan batuan yang sangat panas. Hal ini menunjukkan bahwa bumi merupakan sumber energi panas yang sangat besar.&lt;br /&gt;Di beberapa tempat, sumber energi panas ini cukup dekat ke per¬mukaan bumi sehingga orang memanfaatkan tenaga panas bumi ini. Air yang mengalir ke dalam tanah akan kembali ke permukaan sebagai uap air yang memancar. Air panas ini disebut juga geyser.&lt;br /&gt;Tenaga panas bumi digunakan untuk menghasilkan listrik. Proses yang terjadi di stasiun pembangkit listrik tenaga uap dapat kamu pelajari Air dingin dari permukaan dipompa dan dialirkan melalui pipa ke dalam tanah hingga ke lapisan batuan panas. Saat sampai di sana, air langsung mendidih dan berubah menjadi uap air panas. Uap panas ini memutar turbin. Turbin kemudian memutar gene¬rator sehingga listrik dihasilkan. Matahari, angin, air, dan panas bumi rnerupakan sumber energi alternatif. &lt;br /&gt;2. Keuntungan Penggunaan Energi Alternatif&lt;br /&gt;Semua yang ada di bumi ini memiliki keuntungan dan kerugian. Hal ini juga terjadi dalam pemanfaatan sumber energi. Sumber energi dari bahan bakar fosil memiliki keuntungan sebagai berikut. -&lt;br /&gt;1. Tidak dibutuhkan biaya terlalu besar untuk mendapatkannya. Bahkan di beberapa bagian bumi, batu bara dapat diperoleh hanya dengan mengeruk batuan di permukaan bumi.&lt;br /&gt;2. Penggunaan bahan bakar fosil lebih mudah. Misalnya, bensin tinggal dituang ke tangki bensin untuk menggerakkan mobil. Minyak tanah dapat langsung digunakan untuk menyalakan lampu.&lt;br /&gt;Sementara kerugian penggunaan bahan bakar fosil antara lain  sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Lama-kelamaan, bahan bakar fosil akan habis jika digunakan terus-menerus.&lt;br /&gt;2. Bahan bakar fosil dapat mencemari lingkungan karena adanya gas racun sisa pembakaran, misalnya karbon monoksida. Gas-gas buangan ini mencemari lingkungan.&lt;br /&gt;Sumber energi alternatif memiliki keuntungan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Sumber energi alternatif dapat terus digunakan karena tidak akan habis. Matahari, air, angin, dan panas bumi terus memberikan energinya sepanjang masa.&lt;br /&gt;2. Energi yang dihasilkan oleh sumber energi alternatif sangat besar. Contohnya energi yang terkandung dalam cahaya matahari yang jatuh di jalan raya di seluruh Amerika Serikat dalam setahun, besarnya dua kali lipat energi yang dapat dihasilkan dari penggunaan batu bara dan minyak bumi di seluruh dunia dalam setahun.&lt;br /&gt;3. Energi alternatif tidak mencemari lingkungan karena tidak menghasilkan zat-zat buangan ke lingkungan.&lt;br /&gt;Sementara kesulitan dalam pemanfaatan energi alternatif antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Dibutuhkan biaya yang besar untuk dapat memanfaatkan energi alter¬natif. Misalnya, untuk membuat Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air perlu dibuat bendungan besar lebih dulu. Hal ini tentu membutuhkan biaya besar.&lt;br /&gt;2. Dibutuhkan teknologi tinggi untuk mengubah energi alternatif menjadi bentuk energi yarig dapat digunakan. Misalnya, para ahli harus dapat membuat alat yang dapat menembus batuan panas di pusat bumi. Padahal, suhu yang tinggi dapat membakar pipa pengebor.&lt;br /&gt;3. Tersedianya energi alternatif dipengaruhi oleh musim. Saat musim kemarau panjang, misalnya, volume air di bendungan menyusut. Akibatnya, energi listrik yang dihasilkan juga berkurang. &lt;br /&gt;Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan energi alternatif jauh lebih besar dibandingkan dengan kesulitan dalam pemanfaatannya.&lt;br /&gt;(Haryanto, 2007 : 161-167)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6. KERANGKA BERFIKIR&lt;br /&gt;Dengan model pembelajaran dan pendekatan yang lainnya hasil pembelajaran IPA kela IV SDN Kaladan Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan belum mencapai nilai maksimal, karena sebagian siswa tidak begitu aktif dan termotivasi mengikuti proses belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.7. HIPOTESIS&lt;br /&gt;  Berdasarkan landasan teori, maka hipotesis penelitian ini adalah: Ada peningkatan pemahaman materi Energi alternatif dan cara penggunaannya pada siswa kelas IV SDN Kaladan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe  STAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas ini didesain seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;( Suhardjono, 2008 : 74)&lt;br /&gt; Pada pelaksanaan desain penelitian diatas, penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus sehingga didapat solusi yang terbaik sesuai dengan perencanaan awal. Setiap siklus terdiri dari beberapa langkah berikut : (1) Perencanaan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah membuat skenario pembelajaran pada pokok bahasan Energi alternatif dan cara penggunaannya, merancang LKS, menyiapkan lembar observasi dan menyiapkan alat bantu yang diperlukan dalam mengajar. (2) Pelaksanaan Tindakan, pada tahap ini melaksanakan skenario pembelajaran dan rencana tindakan yang telah disusun sebelumnya dalam tahap perencanaan, (3) Observasi, dilakukan dengan mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap subyek penelitian (siswa), dan merekam segala aktivitas yang berlangsung selama pembelajaran.(4) Refleksi, merupakan gambaran dari hasil pelaksanaan tindakan, baik pada siklus I, II,  dan seterusnya. Pada tahap ini peneliti mengkaji dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan serta memperbaiki rencana tindakan untuk diterapkan pada siklus berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. SETTING PENELITIAN&lt;br /&gt;Setting penelitian ini adalah siswa Kelas IV SDN Kaladan  Tahun Pelajaran 2009/2010 Semester.2 yaitu siswa Kelas IV sebanyak 11 orang. Keseluruhan siswa tersebut dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang siswa dan 3 orang siswa Pada mata pelajaran IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. FAKTOR YANG DITELITI&lt;br /&gt;Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah &lt;br /&gt;1. respon siswa kelas IV SDN Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;2. Hasil belajar siswa Kelas IV IPA SDN Kaladan Tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. SKENARIO TINDAKAN&lt;br /&gt;Metode penelitian ini adalah merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Penelitian Tindakan Kelas IV  peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas untuk siklus pertama dan dua dapat dijabarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Rencana Tindakan &lt;br /&gt;Sebelum dilaksanakan penelitian perlu dilakukan berbagai persiapan hingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh adalah :&lt;br /&gt;1) membuat rencana atau skenario pembelajaran siklus I dan siklus II yang berisi langkah-langkah yang dilakukan guru dan bentuk kegiatan yang dilakukan siswa.&lt;br /&gt;2) Mempersiapkan sarana pendukung kegiatan belajar mengajar, &lt;br /&gt;3) Membuat lembar observasi untuk merekam pelaksanaan tindakan. &lt;br /&gt;2. Pelaksanaan Tindakan&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang direncanakan.&lt;br /&gt;3. Observasi&lt;br /&gt;Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu Penggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD dalam upaya peningkatan pemahaman siswa kelas IV SDN Kaladan tentang Energi alternatif dan cara mencontohkan benda-benda yang bisa di buat Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan yang didukung dengan penggunaan  lembar observasi  yang telah dibuat, baik lembar       observasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk guru seperti lembar observasi pengelolaan pembelajaran untuk siklus I dan II dan lembar observasi terbuka serta lembar observasi sistematis siklus I dan II siklus I dan II dan untuk siswa lembar observasi terstruktur siklus I dan II, format pengamatan aktivitas siswa dalam KBM siklus I dan II dan presentasi respon siswa terhadap KBM siklus I dan II.&lt;br /&gt;4. Refleksi&lt;br /&gt;Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis. Hasil dari observasi guru dapat merefleksi diri dengan melihat data observasi sehingga dapat melakukan perbaikan guna perencanaan berikutnya apakah kegiatan yang telah dilakukan telah dapat meningkatkan kemampuan siswa tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. CARA PENGGALIAN DATA&lt;br /&gt; a. Jenis dan Sumber Data &lt;br /&gt;Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Lembar observasi guru dalam pembelajaran Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD.&lt;br /&gt;2. Lembar observasi siswa dalam pembelajaran Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD &lt;br /&gt;3. Angket siswa terhadap kegiatan belajar mengajar dalam pembelajaran tentang Energi alternatif dan cara penggunaannya dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD &lt;br /&gt;4. Soal tes awal siklus I  dan soal test akhir  siklus II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; b. Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;1. Data kuantitatif berupa data hasil belajar yang diambil dari tes awal dan tes akhir.&lt;br /&gt;2. Data kualitatif berupa data hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran dan angket.&lt;br /&gt;    c. Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Ada dua data yang diperoleh yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Untuk data kuantitatif berupa hasil observasi siswa maupun guru dianalisa dengan secara naratif. Data kuantitatif yang berupa post tes dianalisa teknik presentase. Hal ini berguna untuk menentukan ketuntasan belajar secara individual dan klasikal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. INDIKATOR KEBERHASILAN&lt;br /&gt;Kriteria ketuntasan belajar&lt;br /&gt;1. Ketuntasan individual, jika mencapai ketuntasan lebih dari 65.&lt;br /&gt;2. Ketuntasan klasikal, jika lebih dari 85 % dari seluruh siswa mencapai ketuntasan lebih dari 65.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-743819015657398329?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/743819015657398329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ipa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/743819015657398329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/743819015657398329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ipa.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan IPA'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lYDbEsCjI/AAAAAAAAAEA/U600__5nFY0/s72-c/Untitled-TrueColor-02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-8190301246822748962</id><published>2010-01-21T23:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T23:41:54.861-08:00</updated><title type='text'>Contoh Skripsi Bahasa Inggris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lWQOi50AI/AAAAAAAAAD4/lhWJ5vF-Q-4/s1600-h/Gue+Waktu+Wisuda.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lWQOi50AI/AAAAAAAAAD4/lhWJ5vF-Q-4/s320/Gue+Waktu+Wisuda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429465662554230786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;THE ERRORS ANALYSIS OF USING THE PREPOSITION &lt;br /&gt;MADE BY ENGLISH DEPARTEMENT’S STUDENTS &lt;br /&gt;ACADEMIC YEAR 2009/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Background&lt;br /&gt;Preposition is one of function words in English. It had introduced from elementary school till university, one way to introduced and learned the preposition is by asking students to make a writing paper. Sekolah Tinggi keguruan dan Ilmu pendidikan (STKIP) PGRI Banjarmasin have many programs to increase their students writing ability. STKIP has two programs that can make their students ability in writing better and better. The programs are structure and writing.&lt;br /&gt;In writing, the students learn how to make right sentences and at the end of this program they had to write a research design as their final assessment. But before it, the students must pass some subjects.  For instance, they must pass program structure I, II, III, and IV. And then, they also must pass program Writing I, II, III and Writing IV. After they pass them all, the students continue with writing research design. Therefore it’s expected that they will able to apply appropriate use of correct sentences or grammar among others the correct used of verbs, article and also preposition.&lt;br /&gt;However, a lot of students still make certain grammatical errors in writing specially in writing a research design. The correct use of the preposition is very important in English because ungrammatical words or sentences will make some misunderstanding.&lt;br /&gt;Based on the explanation above, it’s necessary for students to know more and to master everything about preposition, so that they are not making errors in their writing. Finally, this research tries to know the errors made of students in using preposition and also to give contribution to the concept of making true sentence in using the preposition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Identification and Formulation of the problems&lt;br /&gt; Prepositions are words normally placed before nouns or pronouns and can also be followed by verbs but, except after but and except, the verb must be in the gerund form (Thomson, 1986: 91)&lt;br /&gt; Preposition includes to kinds of ‘function words’ which means “a word that doesn’t belong to one of the four major parts of speech in English (noun, verb, adjective,  adverb). “Their purpose is not only to express meaning but to relate other words to each other” (Hornby, 1975:7).&lt;br /&gt; According to (Hornby, 1975:7) there are eight function words among the function words are:&lt;br /&gt;1. Articles: a, an, and the&lt;br /&gt;2. Auxiliary verbs: be, have, and do&lt;br /&gt;3. Conjunction: after, though, while, etc&lt;br /&gt;4. Preposition: about, as, beside, etc&lt;br /&gt;5. Pronoun: I, You, We, etc&lt;br /&gt;6. Noun-Determiners: a, an, the, some, etc&lt;br /&gt;7. Substitute nouns: all, another, both, etc&lt;br /&gt;8. Intensifiers: pretty, almost, really, etc&lt;br /&gt;9. Specialized expressions: no, O.K, anyhow, etc&lt;br /&gt;Based on the identification above, the formulation of this research is:&lt;br /&gt;“What kind of errors in using the preposition made by English Department students of STKIP-PGRI Banjarmasin academic year 2009/2010 in writing the research design?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Research Objective&lt;br /&gt; The objective of this research is to find the students’ errors in using the preposition in their research design made by English’s Department students of STKIP-PGRI Banjarmasin academic year 2009/2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Significance&lt;br /&gt;Implication:&lt;br /&gt;- The research will give contribution to the concept of making true sentences especially in using the preposition.&lt;br /&gt;Application:&lt;br /&gt;- For teacher, this research is expected will give contribution in designing appropriate teaching structure methods of the use of the preposition and it’s intended to minimize the errors made by English learners.&lt;br /&gt;- For the students, Regarding that this research will give useful input for English Department students in order to make the errors less when they writing something in the future time. &lt;br /&gt;- Next researchers, as a reference for other research studies or conducting a further research.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Working Theory&lt;br /&gt;In the most general terms, a preposition expressed a relation between two entities, one being that represented by the preposition complement. Of the various types of relational meaning, those of place and time are the most prominent to identify. (Quirk,1973:6.1) &lt;br /&gt; Preposition includes to kinds of ‘function words’ which means “a word that doesn’t belong to one of the four major parts of speech in English (noun, verb, adjective,  adverb). “Their purpose is not only to express meaning but to relate other words to each other” (Hornby, 1975:7).&lt;br /&gt; Prepositions are words normally placed before nouns or pronouns and can also be followed by verbs but, except after but and except, the verb must be in the gerund form (Thomson, 1986: 91)&lt;br /&gt;       A preposition is a words that links a noun or a noun equivalent (e.g. a pronoun or a gerund) to another word by expressing such relationships as location, direction, time, or purpose. (Longman,……………).&lt;br /&gt;Preposition are always followed by nouns (or pronouns).They are connective words that show the relationship between the nouns following them and one of the basic sentence elements: subject, verb, object, or complement. They usually indicate relationship such as position, place, direction, time manner, agent, possession, and condition, between their objects and other parts of the sentence. Prepositional phrases usually provide international asked for by the question words who, what, where, when, why, how, and how long. The noun or pronoun following the preposition is it’s object. A pronoun used in this position is always an object pronoun: me, you, him, her, it, us, and them. The preposition plus its object is called the preposition phrase. (Wishon,1980.288-289)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From all the theories above which are giving definition about preposition, it takes one working theory that strengthen this research. It’s stated by Longman that “A preposition is a words that links a noun or a noun equivalent (eg a pronoun or a gerund) to another word by expressing such relationships as location, direction, time, or purpose.”&lt;br /&gt;Based on the theory above it concludes that preposition is a word that links a noun, pronoun or gerund to another word. The preposition also expressing such as location, direction, or purpose. Grammar including the preposition is one of basic in English, it’s had learned from elementary school until high school, this predicted that the English Department Students of STKIP PGRI Banjarmasin are able to use correct preposition because to be grammatically correct and to say exactly what we mean, we must use the correct preposition. On other hand, it is assumed that if they are not able to usage them correctly, it means they are not able to master the preposition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Review of Literature&lt;br /&gt; Error which was mentioned by Karol and Marina (1972:1) is goof. A goof means an error students tend to make in learning English as a second language, for which no blame is implied a sentence containing one or more goofs.&lt;br /&gt; Based on A.J.Thompson, in Oxford ( 1986:91 ). The student has two main problems with preposition. He has to know whether in any construction a preposition is required or not which it especially troublesome to a European student and which preposition to use when one is required.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Identification of function words&lt;br /&gt;  According to (Hornby, 1975:7) there are eight function words among the function words are :&lt;br /&gt;1. Articles: a, an, and the&lt;br /&gt;2. Auxiliary verbs: be, have, and do&lt;br /&gt;3. Conjunction: after, though, while, etc&lt;br /&gt;4. Preposition: about, as, beside, etc&lt;br /&gt;5. Pronoun: I, You, We, etc&lt;br /&gt;6. Noun-Determiners: a, an, the, some, etc&lt;br /&gt;7. Subtitate nouns: all, another, both, etc&lt;br /&gt;8. Intensifiers: pretty, almost, really, etc&lt;br /&gt;9. Specialized expressions: no, O.K, anyhow, etc&lt;br /&gt;2. Identification of Preposition&lt;br /&gt; In the most general terms, a preposition expresses a relation between two entities, one being that represented by the prepositional complement.&lt;br /&gt;a. Simple and complex prepositions&lt;br /&gt; Simple preposition is preposition that consists of one word, such as at, in, and for.  Other prepositions, consisting of more than one word, are called Complex. These are examples of simple prepositions: about, above, after, ,among, around, as, at, before, behind, below, beside, between, beyond, by, down, during,, for, in, inside, into, like, near, of, on, opposite, outside, over, since, through, till, to, towards, under, underneath, up, upon, with. &lt;br /&gt; These are examples of complex prepositions: as well as, according to, along with, apart from, as for, as to, away from, because of, by means of, from… to, except for ,from….until , in front of, in spite of, instead of, next to, on top of, out of, up to, by way of, with respect to.&lt;br /&gt;b. Types of preposition &lt;br /&gt;a. physical Relationship&lt;br /&gt;1) Time &lt;br /&gt;a) One point of time&lt;br /&gt;On  : - Used with a day of the week &lt;br /&gt;    (I saw him on Sunday)&lt;br /&gt;   - Used with a day of the month&lt;br /&gt;    (I saw him on June)&lt;br /&gt;At  : - Used with part of the day considered as a point&lt;br /&gt;    (I saw him at noon)&lt;br /&gt;  -  Used with an hour of the day&lt;br /&gt;    (I saw him at five o’clock)&lt;br /&gt;In  : - Used with a month&lt;br /&gt;     (I saw him in September)&lt;br /&gt;  - Used with a year&lt;br /&gt;     (I saw him in 1986)&lt;br /&gt;b) Extended time&lt;br /&gt;Since : Gives the beginning point, if it is used with the      present perfect tense, the point is now&lt;br /&gt; (I have not seen him since Monday)&lt;br /&gt;By : Implies no later then, at anytime up to this point  &lt;br /&gt;  (I can see you by Monday)&lt;br /&gt;From-to, until, till : A beginning point with form generally requires on end point wit to&lt;br /&gt; (I can see you from ten to five o’clock)&lt;br /&gt;For : Gives a quantity of time&lt;br /&gt; (I can you for one hour)&lt;br /&gt;During : Gives a block of time, usually through of as undivided&lt;br /&gt; (I can see you during the week)&lt;br /&gt;Within : Gives a quantity of time before which something will happen&lt;br /&gt; (I can see you within an hour for now)&lt;br /&gt;c) Sequence of time&lt;br /&gt;Before  : the event precedes the time given in the before   phrase&lt;br /&gt; (I will see you before Wednesday)&lt;br /&gt;After : the event follows the time given in the after phrase&lt;br /&gt; (I will see you after Wednesday)&lt;br /&gt;2) Place-position&lt;br /&gt;a) Position&lt;br /&gt;(1) The points it self&lt;br /&gt;In or inside : Gives the area of something enclosed&lt;br /&gt;     (Hang your coat inside the closet)&lt;br /&gt;On  : Indicates the surface of something&lt;br /&gt;      (put the dishes on the table)&lt;br /&gt;At  : Refers to general vicinity. Mere presence at a place    &lt;br /&gt;      is indicate&lt;br /&gt;    (He’s at school)&lt;br /&gt;2) Higher or lower than a point&lt;br /&gt;(a) Higher&lt;br /&gt;Over  : Felt to be generally higher than a point&lt;br /&gt;     (The plane flew over the mountain)&lt;br /&gt;Above : Felt to be directly higher than a point&lt;br /&gt;    (They lives on the floor above us)&lt;br /&gt;(b) Lower&lt;br /&gt;Under : Felt to be generally lower than a point&lt;br /&gt;    (A subway runs under this street)&lt;br /&gt;Underneath : Expresses the idea of closer under, especially so as        &lt;br /&gt;    To be hidden&lt;br /&gt;   (He swept the dirt underneath the rug)&lt;br /&gt;Below : Felt to be directly lower than a point&lt;br /&gt;   (He lives on the floor below us)&lt;br /&gt;Beneath : Expresses the idea of directly under, with some space under)&lt;br /&gt;3) Neighboring the point&lt;br /&gt;Near : Most general meaning of neighboring of point&lt;br /&gt;   (He lives near the university)&lt;br /&gt;Next to : With nothing else between them&lt;br /&gt;   (The school is right next to the hospital) &lt;br /&gt;Alongside : Adjoining person s or thing considered as lined up,  &lt;br /&gt;    Or side by side&lt;br /&gt;   (The tug pulled up alongside the tanker)&lt;br /&gt;Beside : On one side of a person or thing that has two sides&lt;br /&gt;   (He sat beside his wife during the party)&lt;br /&gt;Between : On each side of a person or thing that has two  &lt;br /&gt;    sides  &lt;br /&gt;   (He sat between his two sons)&lt;br /&gt;Opposite : Directly facing someone else&lt;br /&gt;   (The museum is just opposite the bank)&lt;br /&gt;4) Direction (Movement in regard to a point)&lt;br /&gt;To – from : He always walks to school from his home&lt;br /&gt;Toward (s) : The pilgrims headed toward(s) Mecca&lt;br /&gt;Away from : They moved away from their old neighborhood&lt;br /&gt;In (to)-out of : He ran into the house quickly. After a few minutes he ran out of the house with an umbrella under his arm&lt;br /&gt;Up-down : He climbed up (or down) the stair&lt;br /&gt;Around : The ship sailed the island&lt;br /&gt;Through : You can drive through that town in an hour&lt;br /&gt;Past : He walked past his old schoolhouse without stopping&lt;br /&gt;As far as : We’ll walk only as far as the old schoolhouse, then we turn back. (Frank, 1972: 164-168)&lt;br /&gt;b. Semantic Relationship&lt;br /&gt;Many of prepositions introduce phrases that are adverbial or adjective clause equivalent.&lt;br /&gt;1) Cause or reason (adv) : Because of&lt;br /&gt;Because of his selfishness he has very few friends &lt;br /&gt;2) Purpose (adv)  : for, for the purpose of&lt;br /&gt;She went to grocery store for milk&lt;br /&gt;3) Comparison (adv)  : like, as&lt;br /&gt;He is living like a millionaire&lt;br /&gt;4) Instrument (adv)  : With&lt;br /&gt;He cut the meat with sharp knife&lt;br /&gt;5) Manner (adv)  : With&lt;br /&gt;He does his work with great care (= carefully or in a careful manner)&lt;br /&gt;6) Example (adj)  : Like, such as&lt;br /&gt;     An adjective is used after a verb like, seem, appear, become.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here some guidelines on the use of preposition:&lt;br /&gt;• The noun or noun equivalent that is used with a preposition is the object of the preposition.&lt;br /&gt;Preposition  object &lt;br /&gt;Above   the box&lt;br /&gt;• A preposition may have more than one object&lt;br /&gt;With my teacher or my friend&lt;br /&gt;• If a pronoun is the object of the preposition it must be in the object form&lt;br /&gt;About me (not I) to them (not they)&lt;br /&gt;• A preposition may link its object with:&lt;br /&gt;- A verb&lt;br /&gt;Walk behind us (link walk with us)&lt;br /&gt;- An adjective&lt;br /&gt;He is good at English (link English with good)&lt;br /&gt;- Another noun&lt;br /&gt;It’s  a book about detectives (link detective with book) &lt;br /&gt;• Many words that are used as prepositions are sometime used as the other parts of speech. To identify preposition, it is important to consider the function of the particular word in a sentence, i.e. preposition links a noun or noun equivalent to another word:&lt;br /&gt;I saw him before lunch (preposition)&lt;br /&gt;I’ve seen him before (adverb)&lt;br /&gt;I saw him before we had lunch (conjunction)&lt;br /&gt;• It is sometime said that a preposition must always be placed in front of noun or noun equivalent and that a sentence should not end with a preposition. In practice, there are instances when a preposition is not followed directly by its object.&lt;br /&gt;Mary is the person you spoke to.&lt;br /&gt;This is an example of something I will not put up to.&lt;br /&gt;What does she look like?&lt;br /&gt;Who did you talk to?&lt;br /&gt;3.  Common Errors&lt;br /&gt;a. Pronouns after preposition &lt;br /&gt;The pronoun used after a preposition must be in the object form (e.g. me, her, him)&lt;br /&gt;- Peter was with Jim and I (WRONG)&lt;br /&gt;- Peter was with Jim and me. (CORRECT)&lt;br /&gt;b. Incorrect omission of preposition&lt;br /&gt;When a sentence has two or more words that take different prepositions, none of the prepositions should be omitted.&lt;br /&gt;- The manager disagreed and disapproved of the way you argued. (WRONG) &lt;br /&gt;- The manager disagreed with and disapproved of the way you argued. (CORRECT)&lt;br /&gt;c. Unnecessary repetition of prepositions &lt;br /&gt;Errors in unnecessary repetition of prepositions may seem obvious when they pointed out. &lt;br /&gt;- The error to which recent letter refers to has been corrected (WRONG)&lt;br /&gt;- The error to which recent letter refers has now been corrected (CORRECT)&lt;br /&gt;- The error which recent letter refers to has now been corrected (CORRECT)&lt;br /&gt;d. Noun following between&lt;br /&gt;Between must be followed by a plural noun. It’s not possible to have a position that is between one thing.&lt;br /&gt;- When you write, leave a space of 5 mm between each word. (WRONG)   &lt;br /&gt;- When you write, leave a space of 5 mm between words. (CORRECT)&lt;br /&gt;e. Preposition after request&lt;br /&gt;When request is used as a verb, it does not take any preposition. When it’s used as a noun, the preposition used with it is for.&lt;br /&gt;- John requested for your assistance. (WRONG)&lt;br /&gt;- John requested your assistance. (CORRECT)&lt;br /&gt;- John put in a request for your assistance. (CORRECT)&lt;br /&gt;f. Between and among&lt;br /&gt;It’s not correct to say that between is used only when two things or people are referred to and that among is used when there are more than two things or people. Between can be used when reference is made to more than two things or people if each one of them is compared to all the others as a group.&lt;br /&gt;- What is the difference among “sometimes”, “sometime”, and “some time”? (WRONG)&lt;br /&gt;- What is the difference between “sometimes”, “sometime”, and “some time”? (CORRECT)&lt;br /&gt;Among is used when the number of things or people is not known or not important.&lt;br /&gt;- The hut is among the trees (CORRECT)&lt;br /&gt;- The letter you want is among all those document (CORRECT)&lt;br /&gt;- You are among friends (CORRECT)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-8190301246822748962?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/8190301246822748962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-bahasa-inggris.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8190301246822748962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8190301246822748962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-bahasa-inggris.html' title='Contoh Skripsi Bahasa Inggris'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/S1lWQOi50AI/AAAAAAAAAD4/lhWJ5vF-Q-4/s72-c/Gue+Waktu+Wisuda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-7714247095913169374</id><published>2010-01-11T00:58:00.001-08:00</published><updated>2010-05-28T00:05:07.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan IPS</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt; Dalam pembukaan undang - undang Dasar 1945 alenia IV menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa : Sistem Pendidikan Nasional yang dicantumkan melalui undang-undang No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional dengan fungsi dan tujuan sebagaimana kutipan berikut :&lt;br /&gt;Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berakhlak mulia Sehat, Berilmu, Cakap kreatif mandiri, dan mejadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( BAB 11. Pasal 3 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah merupakan usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan, potensi kemampuan anak, agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya baik sebagai individu maupun dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Mendiknas No. 41 Tahun 2007, disebutkan bahwa standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Standar proses pada pelajaran IPS khususnya di SD harus mendapatkan perhatian khusus dari guru karena mata pelajaran IPS di SD memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lain, antara lain sebagai berikut: IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial. Materi IPS terdiri atas sejumlah konsep, prinsip, dan tema yang berkenaan dengan hakekat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial (homo socius) Susanto (2000:24). &lt;br /&gt;Ada beberapa strategi dan model dan metode dalam pembelajaran IPS, Strategi pengajaran Sejarah adalah suatu alternatif dalam bentuk model cara menyelesaikan proses belajar mengajar yang merupakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti guru dan siswa. Pola-pola umum kegiatan ini perlu ditempuh untuk mencapai tujuan pengajaran (karmawati, 2008 : 2 ).&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan pengajaran IPS perlu adanya Pendekatan pemecahan masalah, Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran IPS yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal dan masalah dengan  berbagai cara penyelesaian. untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model IPS, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya(Depdiknas, 2006 : 93) &lt;br /&gt;Di kelas IV SDN Kasai Kecamatan Batumandi siswa-siswa dibekali ilmu pengetahuan, agar dia diharapkan bisa mandiri di hari-hari mendatang. Namun kenyataannya hasil pembelajaran IPS yang dicapai siswa selama ini belum maksimal, sebab dalam pembelajarannya metode ceramah masih mendominasi sehingga interaksi hanya berlangsung satu arah, siswa hanya menerima informasi tanpa ada balikan, sementara yang aktif adalah guru. Padahal dalam PBM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seharusnya diperlukan komunikasi dua arah atau lebih sehingga dapat membuat aktivitas siswa lebih meningkat dan menjadikan hasil pembelajaran lebih berhasil.&lt;br /&gt;Dari masalah diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul " Upaya Meningkatkan Hasil Belajar  Siswa Kelas IV Tentang Pentingnya Mengenal Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw SDN Kasai Kecamatan Batumandi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah.&lt;br /&gt;Dari uraian yang terdapat pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini : &lt;br /&gt;a. Bagaimanakah peningkatan Hasil belajar siswa SDN Kasai Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rencana Pemecahan&lt;br /&gt;Kegiatan pertama dalam Tipe Jigsaw adalah membagikan bacaan dan topik-¬topik ahli, penugasan topik-topik pada masing-masing siswa, dan kemudian membacanya. Membagikan lembar akhir dan kemudian menugasi setiap siswa untuk mengerjakan topik tertentu (datangi setiap kelompok dan tunjuk setiap siswa untuk mengerjakan topik tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi kelompok ahli, mintalah seluruh siswa dengan topik ahli 1 berkumpul pada sebuah meja, seluruh siswa dengan topik 2 berkumpul pada lain dan seterusnya. Tunjuk seorang pemimpin diskusi untuk setiap kelompok. Pemimpin diskusi tersebut tidak harus siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan seluruh siswa seharusnya memiliki kesempatan menjadi pemimpin diskusi pada suatu saat kelak.&lt;br /&gt;Ketika kelompok ahli sedang bekerja, guru seharusnya berkeliling bergantian mendatangi dan memfasilitasi setiap kelompok. Guru dapat mengingatkan para pemimpin diskusi bahwa sebagian dari tugas mereka adalah mengupayakan agar setiap orang berperan serta.&lt;br /&gt;Laporan kelompok. Para ahli seharusnya kembali kekelompok asalnya untuk mengajarkan topik-topik itu kepada teman kelompok asalnya. Mereka seharusnya diberi waktu sekitar 5 menit untuk menelaah ulang segala sesuatu yang mereka pelajari dari kelompok ahli. Beri penekanan kepada siswa bahwa mereka memiliki tanggung jawab kepada teman kelompok asalnya.&lt;br /&gt;Tes. Bagikan kuis itu dan berikan kepada siswa, dan berikan cukup waktu sedemikian rupa, sehingga hampir setiap siswa dapai menyelesaikannya.&lt;br /&gt;Penghargaan kelompok. Guru memberikan penghargaan kepada keelompok yang mendapat nilai atau skor yang terbanyak baik dengan pujian maupun dengan bilangan atau angka / dengan kualitatif maupun kwantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan dan Manfaat Penelitian. &lt;br /&gt;l. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;a. Meningkatkan Hasil belajar siswa SDN Kasai Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw.&lt;br /&gt;2. Manfaat Penelitian Tindakan kelas ini adalah :&lt;br /&gt;a. Bagi guru-guru khususnya bidang studi IPS sebagai informasi tentang upaya yang dapat disimpulkan untuk meningkatkan hasil belajar IPS.&lt;br /&gt;b. Bagi Kepala Sekolah sebagai bahan masukan tentang upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran IPS.&lt;br /&gt;c. Untuk Pengawas sebagai bahan masukan dalam membina dan meningkatkan mutu pembelajaran IPS&lt;br /&gt;d. Dinas Pendidikan Kabupaten  sebagai bahan masukan dan bahan sosialisasi dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran IPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif. merupakan strategi belajar melalui penempatan siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda atau adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran. &lt;br /&gt;Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah:&lt;br /&gt;1) Siswa belajar kelompok.&lt;br /&gt;2) Kelompok dibentuk heterogen.&lt;br /&gt;3) Upayakan agar anggota kelompok berbeda-beda&lt;br /&gt;4) Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.&lt;br /&gt;(Anshori, 2009 : 2 )&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif ada beberapa jenis antara lain Ada lima ( 5 ) tipe/variasi dalam model pembelajaran kooperatif ini, yaitu: (1) Student Teams-Achievement Division (STAD) (2) Teams Games¬Tournaments (TGT) (3) Jigsaw (4) Think-Pair-Share (TPS) dan (5) Numbered  Head an together (NHT).&lt;br /&gt;(Sutrisni Andayani, 2008:1) &lt;br /&gt;Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. (Sutrisni Andayani, 2008:1) &lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.&lt;br /&gt;Keunggulan kooperatif tipe jigsaw meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.Meningkatkan  bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Doantara yasa, 2008 : 1).&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. (Doantara yasa, 2008 : 1)&lt;br /&gt;Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Disini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakukan diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal.  Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. (Doantara yasa, 2008 : 1)&lt;br /&gt;Suatu strategi pembelajaran mempunyai keunggulan dan kekurangan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mempunyai beberapa keunggulan menurut Purwanti (2008 : 30) diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif di antara siswa yang memiliki kemampuan belajar yang berbeda &lt;br /&gt;2. Menerapkan bimbingan sesama teman &lt;br /&gt;3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi &lt;br /&gt;4. Memperbaiki kehadiran &lt;br /&gt;5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar &lt;br /&gt;6. Sikap apatis berkurang &lt;br /&gt;7. Pemahaman materi lebih mendalam &lt;br /&gt;8. Meningkatkan motivasi belajar &lt;br /&gt;      Selain keunggulan tersebut pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga memiliki kekurangan-kekurangan, menurut Purwanti (2008 : 30) diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi. &lt;br /&gt;b. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dan menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi &lt;br /&gt;c. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan gaduh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Langkah - langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw&lt;br /&gt;1. siswa dikelompokkan ke dalam 4  anggota tim&lt;br /&gt;2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda&lt;br /&gt;3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan&lt;br /&gt;4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka)&lt;br /&gt;5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub yang mereka kuasai dan tipe anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh&lt;br /&gt;6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi&lt;br /&gt;7. Guru memberi evaluasi&lt;br /&gt;8. penutup&lt;br /&gt;(Depdiknas, 2008 : 9)&lt;br /&gt;Aktivitas Kegiatan dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw&lt;br /&gt; Aktivitas yang dilakukan  dalam jigsaw meliputi:&lt;br /&gt;• Membaca&lt;br /&gt;• Diskusi dikelompok ahli&lt;br /&gt;• Laporan ke kelompok asal&lt;br /&gt;• Tes&lt;br /&gt;• Penghargaan Kelompok&lt;br /&gt;(Anshori, 2009 : 5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kerangka Berpikir dan Hipotesis &lt;br /&gt;  1. Kerangka Berpikir&lt;br /&gt;Metode penelitian ini adalah merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Penelitian Tindakan Kelas terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi (Arikunto, 2006:16).&lt;br /&gt; Dalam penelitian ini peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan.&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw karena pembelajaran ini memiliki keunggulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif di antara siswa yang memiliki kemampuan belajar yang berbeda &lt;br /&gt;2. Menerapkan bimbingan sesama teman &lt;br /&gt;3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi &lt;br /&gt;4. Memperbaiki kehadiran &lt;br /&gt;5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar &lt;br /&gt;6. Sikap apatis berkurang &lt;br /&gt;7. Pemahaman materi lebih mendalam &lt;br /&gt;8. Meningkatkan motivasi belajar &lt;br /&gt;  2. Hipotesis Tindakan&lt;br /&gt;Hipotesis Tindakan dalam penelitian ini adalah “Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada materi Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat siswa kelas IV SDN Kasai".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-7714247095913169374?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/7714247095913169374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ips_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7714247095913169374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7714247095913169374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ips_11.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan IPS'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-5966191925911231710</id><published>2010-01-11T00:58:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:06:36.267-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan IPS</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt; Dalam pembukaan undang - undang Dasar 1945 alenia IV menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa : Sistem Pendidikan Nasional yang dicantumkan melalui undang-undang No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional dengan fungsi dan tujuan sebagaimana kutipan berikut :&lt;br /&gt;Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berakhlak mulia Sehat, Berilmu, Cakap kreatif mandiri, dan mejadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( BAB 11. Pasal 3 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah merupakan usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan, potensi kemampuan anak, agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya baik sebagai individu maupun dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Mendiknas No. 41 Tahun 2007, disebutkan bahwa standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Standar proses pada pelajaran IPS khususnya di SD harus mendapatkan perhatian khusus dari guru karena mata pelajaran IPS di SD memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lain, antara lain sebagai berikut: IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial. Materi IPS terdiri atas sejumlah konsep, prinsip, dan tema yang berkenaan dengan hakekat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial (homo socius) Susanto (2000:24). &lt;br /&gt;Ada beberapa strategi dan model dan metode dalam pembelajaran IPS, Strategi pengajaran Sejarah adalah suatu alternatif dalam bentuk model cara menyelesaikan proses belajar mengajar yang merupakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti guru dan siswa. Pola-pola umum kegiatan ini perlu ditempuh untuk mencapai tujuan pengajaran (karmawati, 2008 : 2 ).&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan pengajaran IPS perlu adanya Pendekatan pemecahan masalah, Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran IPS yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal dan masalah dengan  berbagai cara penyelesaian. untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model IPS, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya(Depdiknas, 2006 : 93) &lt;br /&gt;Di kelas IV SDN Kasai Kecamatan Batumandi siswa-siswa dibekali ilmu pengetahuan, agar dia diharapkan bisa mandiri di hari-hari mendatang. Namun kenyataannya hasil pembelajaran IPS yang dicapai siswa selama ini belum maksimal, sebab dalam pembelajarannya metode ceramah masih mendominasi sehingga interaksi hanya berlangsung satu arah, siswa hanya menerima informasi tanpa ada balikan, sementara yang aktif adalah guru. Padahal dalam PBM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seharusnya diperlukan komunikasi dua arah atau lebih sehingga dapat membuat aktivitas siswa lebih meningkat dan menjadikan hasil pembelajaran lebih berhasil.&lt;br /&gt;Dari masalah diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul " Upaya Meningkatkan Hasil Belajar  Siswa Kelas IV Tentang Pentingnya Mengenal Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw SDN Kasai Kecamatan Batumandi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah.&lt;br /&gt;Dari uraian yang terdapat pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini : &lt;br /&gt;a. Bagaimanakah peningkatan Hasil belajar siswa SDN Kasai Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rencana Pemecahan&lt;br /&gt;Kegiatan pertama dalam Tipe Jigsaw adalah membagikan bacaan dan topik-¬topik ahli, penugasan topik-topik pada masing-masing siswa, dan kemudian membacanya. Membagikan lembar akhir dan kemudian menugasi setiap siswa untuk mengerjakan topik tertentu (datangi setiap kelompok dan tunjuk setiap siswa untuk mengerjakan topik tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi kelompok ahli, mintalah seluruh siswa dengan topik ahli 1 berkumpul pada sebuah meja, seluruh siswa dengan topik 2 berkumpul pada lain dan seterusnya. Tunjuk seorang pemimpin diskusi untuk setiap kelompok. Pemimpin diskusi tersebut tidak harus siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan seluruh siswa seharusnya memiliki kesempatan menjadi pemimpin diskusi pada suatu saat kelak.&lt;br /&gt;Ketika kelompok ahli sedang bekerja, guru seharusnya berkeliling bergantian mendatangi dan memfasilitasi setiap kelompok. Guru dapat mengingatkan para pemimpin diskusi bahwa sebagian dari tugas mereka adalah mengupayakan agar setiap orang berperan serta.&lt;br /&gt;Laporan kelompok. Para ahli seharusnya kembali kekelompok asalnya untuk mengajarkan topik-topik itu kepada teman kelompok asalnya. Mereka seharusnya diberi waktu sekitar 5 menit untuk menelaah ulang segala sesuatu yang mereka pelajari dari kelompok ahli. Beri penekanan kepada siswa bahwa mereka memiliki tanggung jawab kepada teman kelompok asalnya.&lt;br /&gt;Tes. Bagikan kuis itu dan berikan kepada siswa, dan berikan cukup waktu sedemikian rupa, sehingga hampir setiap siswa dapai menyelesaikannya.&lt;br /&gt;Penghargaan kelompok. Guru memberikan penghargaan kepada keelompok yang mendapat nilai atau skor yang terbanyak baik dengan pujian maupun dengan bilangan atau angka / dengan kualitatif maupun kwantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan dan Manfaat Penelitian. &lt;br /&gt;l. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;a. Meningkatkan Hasil belajar siswa SDN Kasai Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw.&lt;br /&gt;2. Manfaat Penelitian Tindakan kelas ini adalah :&lt;br /&gt;a. Bagi guru-guru khususnya bidang studi IPS sebagai informasi tentang upaya yang dapat disimpulkan untuk meningkatkan hasil belajar IPS.&lt;br /&gt;b. Bagi Kepala Sekolah sebagai bahan masukan tentang upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran IPS.&lt;br /&gt;c. Untuk Pengawas sebagai bahan masukan dalam membina dan meningkatkan mutu pembelajaran IPS&lt;br /&gt;d. Dinas Pendidikan Kabupaten  sebagai bahan masukan dan bahan sosialisasi dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran IPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif. merupakan strategi belajar melalui penempatan siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda atau adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran. &lt;br /&gt;Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah:&lt;br /&gt;1) Siswa belajar kelompok.&lt;br /&gt;2) Kelompok dibentuk heterogen.&lt;br /&gt;3) Upayakan agar anggota kelompok berbeda-beda&lt;br /&gt;4) Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.&lt;br /&gt;(Anshori, 2009 : 2 )&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif ada beberapa jenis antara lain Ada lima ( 5 ) tipe/variasi dalam model pembelajaran kooperatif ini, yaitu: (1) Student Teams-Achievement Division (STAD) (2) Teams Games¬Tournaments (TGT) (3) Jigsaw (4) Think-Pair-Share (TPS) dan (5) Numbered  Head an together (NHT).&lt;br /&gt;(Sutrisni Andayani, 2008:1) &lt;br /&gt;Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. (Sutrisni Andayani, 2008:1) &lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson. dkk di Universitas Texas. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.&lt;br /&gt;Keunggulan kooperatif tipe jigsaw meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.Meningkatkan  bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Doantara yasa, 2008 : 1).&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. (Doantara yasa, 2008 : 1)&lt;br /&gt;Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Disini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakukan diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal.  Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. (Doantara yasa, 2008 : 1)&lt;br /&gt;Suatu strategi pembelajaran mempunyai keunggulan dan kekurangan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mempunyai beberapa keunggulan menurut Purwanti (2008 : 30) diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif di antara siswa yang memiliki kemampuan belajar yang berbeda &lt;br /&gt;2. Menerapkan bimbingan sesama teman &lt;br /&gt;3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi &lt;br /&gt;4. Memperbaiki kehadiran &lt;br /&gt;5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar &lt;br /&gt;6. Sikap apatis berkurang &lt;br /&gt;7. Pemahaman materi lebih mendalam &lt;br /&gt;8. Meningkatkan motivasi belajar &lt;br /&gt;      Selain keunggulan tersebut pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga memiliki kekurangan-kekurangan, menurut Purwanti (2008 : 30) diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi. &lt;br /&gt;b. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dan menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi &lt;br /&gt;c. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan gaduh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Langkah - langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw&lt;br /&gt;1. siswa dikelompokkan ke dalam 4  anggota tim&lt;br /&gt;2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda&lt;br /&gt;3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan&lt;br /&gt;4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka)&lt;br /&gt;5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub yang mereka kuasai dan tipe anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh&lt;br /&gt;6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi&lt;br /&gt;7. Guru memberi evaluasi&lt;br /&gt;8. penutup&lt;br /&gt;(Depdiknas, 2008 : 9)&lt;br /&gt;Aktivitas Kegiatan dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw&lt;br /&gt; Aktivitas yang dilakukan  dalam jigsaw meliputi:&lt;br /&gt;• Membaca&lt;br /&gt;• Diskusi dikelompok ahli&lt;br /&gt;• Laporan ke kelompok asal&lt;br /&gt;• Tes&lt;br /&gt;• Penghargaan Kelompok&lt;br /&gt;(Anshori, 2009 : 5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kerangka Berpikir dan Hipotesis &lt;br /&gt;  1. Kerangka Berpikir&lt;br /&gt;Metode penelitian ini adalah merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Penelitian Tindakan Kelas terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi (Arikunto, 2006:16).&lt;br /&gt; Dalam penelitian ini peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan.&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw karena pembelajaran ini memiliki keunggulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif di antara siswa yang memiliki kemampuan belajar yang berbeda &lt;br /&gt;2. Menerapkan bimbingan sesama teman &lt;br /&gt;3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi &lt;br /&gt;4. Memperbaiki kehadiran &lt;br /&gt;5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar &lt;br /&gt;6. Sikap apatis berkurang &lt;br /&gt;7. Pemahaman materi lebih mendalam &lt;br /&gt;8. Meningkatkan motivasi belajar &lt;br /&gt;  2. Hipotesis Tindakan&lt;br /&gt;Hipotesis Tindakan dalam penelitian ini adalah “Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada materi Mengenai Pentingnya Koperasi Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat siswa kelas IV SDN Kasai".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-5966191925911231710?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/5966191925911231710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ips.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5966191925911231710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5966191925911231710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-ips.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan IPS'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-5369230844317792580</id><published>2010-01-11T00:56:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:07:33.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan Bahasa Indonesia</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang  Masalah&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan bertujuan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas,benar dan indah dalam kehidupan.(La sulo, 2005 : 37).&lt;br /&gt;Pada hakekatnya pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasilkarya kesustraan manusi Indonesia (Depdiknas, 2006:63).&lt;br /&gt;Peranan bahasa indonesia sangat penting dalam kemajuan Sumber Daya Manusia khususnya kita orang Indonesia, untuk memiliki kemampuan dalam berkomonikasi dalam era informasi dan globalisasi. Ha1 ini sangat di sadari pemerintah, sehingga perlu mengimplementesikan kebijakan pemerintah dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai pengembangan sumber daya manusia. Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990 yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia bidang pendidikan dalam bentuk pengembangan dan peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan guru, murid, dan tenaga kependidikan lainnya.&lt;br /&gt;Peraturan DEPDIKBUD RI nomor 0487/14/1992 yang menyatakan bahwa sekolah dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Sejak dari dulu secara resmi pelajaran bahasa indonesia sudah masuk dalam sistem pendidikan dasar. Sekolah mempunyai wewenang tentang mata pelajaran bahasa indonesia dimasukkan sebagai salah satu pelajaran wajib yang harus di kuasai khususnya kita sebagai warga negara indonesia.&lt;br /&gt;Proses peningkatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh banyak hal, salah satunya adalah kemampuan berbahasa lisan dan tulis. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial,  emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajaran semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budaya, dan orang lain. Selain itu juga pelajaran bahasa indonesia mampu membantu peserta didik mengemukakan gagasan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analisis dan imajinasi dalam dirinya.&lt;br /&gt;Bahasa indonesia merupakan alat untuk berkomunikasi baik itu secara lisan maupun tulisan. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi secara utuh adalah kemampuan berwacana yakni kemampuan memahami dan digunakan bermasyarakat. Oleh karena itu mata pelajaran bahasa indonesia diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa indonesia pada tingkat literasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pengajaran.&lt;br /&gt;Kenyataan di lapangan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kegiatan pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris. Hal ini mengakibatkan siswa kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar.&lt;br /&gt;Melihat kondisi demikian, perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan dan bersahabat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran (Ansori, 2008:2) Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok. Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah dalam tipe ini guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan diatas, maka penelitian tentang Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas VI SDN Paringin 2 perlu dilaksanakan. Melalui penelitian diharapkan diperoleh diskripsi yang objektif dan lengkap tentang pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Paringin 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai  berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimana proses belajar mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan berpengaruh terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia di kelas VI Sekolah Dasar? &lt;br /&gt;3. Apa saja hambatan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Penulisan ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;1. Memperoleh proses belajar mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;2. Mengungkapkan pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia di kelas VI Sekolah Dasar&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi hambatan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Manfaat yang diperoleh dari hasil penulisan ini adalah:&lt;br /&gt;1. Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai salah satu modal pembelajaran yang nantinya dapat diterapkan pada saat terjun langsung di masyarakat.&lt;br /&gt;2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif  pembelajaran di sekolah guna meningkatkan prestasi belajar siswa.&lt;br /&gt;3. Bagi siswa, dapat memotivasi siswa dalam beraktifitas atau berpikir secara optimal dalam metode kooperatif agar siswa tidak jenuh dan bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1   Pengertian Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya&lt;br /&gt;2.1.1 Pengertian Belajar&lt;br /&gt;Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (1998:84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:&lt;br /&gt;a. belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. &lt;br /&gt;b. belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.&lt;br /&gt;c. untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;d. tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.&lt;br /&gt;Good dan Brophy dalam Purwanto (1998: 85) mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu "Learning is the deyelopment of new associations as a result ofexperience'". Selanjutnya dijelaskan bahwa "Belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internalevent). Belajar merupakan proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi di dalam din seseorang yang sedang mengalami belajar Jadi menurut Good dan Brophy yang dimaksud belajar bukanlah tingkah laku  yang nampak, tetapi adalah proses yang terjadi secara internal di dalam diri indiyidu dalam usahanya memperoleh hubungan hubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa: antara perangsang, antara reaksi, atau antara perangsang dan reaksi. Menurut Sardiman (2007 : 22 ) mengatakan bahwa belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya Sedangkan menurut Usman &amp; Setiawati (2001:4) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berikut adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adaalah suatu proses perubahan dalam diri scscorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar&lt;br /&gt;Menurut Sudjana (2004: 39) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:&lt;br /&gt;l. faktor dari dalam diri siswa yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti motivasi, minat, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, bakat dan kemampuan, fisik dan psikis. Faktor ini dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:&lt;br /&gt;a. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini adalah pancaindra contohnya sakit, cacat tubuh, dan perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor nonintelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyusuaian diri.&lt;br /&gt;c. Faktor kematangan fisik maupun fisikis. (Usman, 2000:10)&lt;br /&gt;2. Faktor dari luar atau lingkungan yaitu faktor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan dimana siswa tersebut berada seperti:&lt;br /&gt;a. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok. &lt;br /&gt;b. Faktor budaya, seperti adat kebiasaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.&lt;br /&gt;c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.&lt;br /&gt;d. Faktor lingkungan spritual atau keagamaan.&lt;br /&gt;(Usman, 2000:10)&lt;br /&gt;Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi belajar baik itu faktor intern maupun faktor ekstern sangat menentukan dalam pencapaian hasil belajar siswa. Keberhasilan belajar siswa merupakan tujuan utama dari poses belajar mengajar, untuk itu faktor-faktor tersebut perlu diketahui oleh seorang pendidik atau guru agar bisa mencapai hasil belajar yang optimal.&lt;br /&gt;Menurut Benyamin Bloom (1976:21) mengatakan ada tiga variabel utama dalam belajar di sekolah yaitu karakteristik individu, kualitas pengajaran, dan hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Menurut Caroll (1977:16) menyatakan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh lima faktor yaitu bakat yang dimiliki individu, waktu yang tersedia untuk belajr, waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran, kualitas mengajar dan kemampuan individu.&lt;br /&gt; Uraian di atas menyatakan bahwa hasil belajar berbanding lurus dengan kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. hasil belajar siswa akan baik jika kemampuan individu siswa tinggi dan kualitas pengajarannya juga baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.2 Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) &lt;br /&gt;Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. .(depdiknas, 2006:65)&lt;br /&gt;Pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas VI dilaksanakan melalui  pendekatan mata pelajaran.(depdiknas, 2006:7)&lt;br /&gt;Materi yang ada pada pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. serta merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.(depdiknas, 2006:65)&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran bahasa indonesia terdapat beberapa komponen yang menunjang proses belajar mengajar dan dapat menentukan hasil belajar tersebut. komponen-komponen dalam proses pembelajaran terdiri dari:&lt;br /&gt;(1) Tujuan&lt;br /&gt;Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. &lt;br /&gt;(2) Bahan pelajaran&lt;br /&gt;Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses beajar mengajar. &lt;br /&gt;(3) Kegiatan Belajar Mengajar&lt;br /&gt;Kegiatan Belajar Mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. &lt;br /&gt;(4) Metode&lt;br /&gt;Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. &lt;br /&gt;(5) Alat&lt;br /&gt;Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. &lt;br /&gt;(6) Sumber Pelajaran&lt;br /&gt;Sumber belajar adalah bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. &lt;br /&gt;(7) Evaluasi&lt;br /&gt;Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Pendekatan Pembelajaran&lt;br /&gt;Pendekatan adalah suatu jalan, cara, atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran, apabila kita melihatnya dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pelajaran itu di-                         kelola (Ruseffendi, 1991). Sedangkan menurut Tim MKPMB (2001) pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Jadi pendekatan adalah suatu cara yang dilakukan guru atau siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;Menurut Nisbet dalam (Tim MKPMB, 2001), tidak ada cara belajar (tunggal) yang paling benar, dan cara mengajar yang paling baik, orang-orang berbeda dalam kemampuan intelektual, sikap, dan kepribadian sehingga mereka mengadopsi pendekatan-pendekatan yang karakteristiknya berbeda untuk belajar. Dari sini dapat dikatakan masing-masing individu akan memilih cara atau gayanya sendiri untuk belajar dan untuk mengajar, namun setidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lainnya.&lt;br /&gt; Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika , yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan yang bersifat materi. Pendekatan metodologik diantaranya adalah pendekatan intuitif, analitik, sintetik, spiral, induktif, deduktif, tematik, realistik, heutistik. Sedangkan pendekatan material yaitu pendekatan pembelajaran matematika di mana dalam penyajian konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki siswa. Adapun contoh lain pendekatan dalam pembelajaran seperti pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kontekstual (CTL), pendekatan open-ended, pendekatan realistik, dan lain-lain (Tim MKPMB, 2001).&lt;br /&gt;Semua pendekatan-pendekatan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan , sehingga dalam pembelajaran baik guru maupun siswa dapat menggunakan pendekatan secara bergantian atau bervariasi. Penggunaan pendekatan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar pada hakikatnya merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Metode Pembelajaran &lt;br /&gt; Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain.&lt;br /&gt;1. Metode ceramah&lt;br /&gt;Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.&lt;br /&gt;2. Metode tanya jawab&lt;br /&gt;Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.&lt;br /&gt;3. Metode diskusi&lt;br /&gt;Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Metode belajar kooperatif&lt;br /&gt;Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 2-4 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.&lt;br /&gt;5. Metode demonstrasi&lt;br /&gt;Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.&lt;br /&gt;6. Metode ekspositori atau pameran&lt;br /&gt;Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Metode karyawisata/widyamisata&lt;br /&gt;Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.&lt;br /&gt;8. Metode penugasan&lt;br /&gt;Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.&lt;br /&gt;9. Metode eksperimen&lt;br /&gt;Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Metode bermain peran&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.&lt;br /&gt;Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.&lt;br /&gt;Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :&lt;br /&gt;• Kemampuan guru dalam menggunakan metode.&lt;br /&gt;• Tujuan pengajaran yang akan dicapai.&lt;br /&gt;• Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa.&lt;br /&gt;• Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya.&lt;br /&gt;•  Sarana dan prasarana yang ada di sekolah.&lt;br /&gt;Setiap metode memiliki kelebihan atau keunggulan dan kelemahan atau kekurangan  masing-masing. Oleh karena itu guru harus mampu memilih metode pembelajaran yang sesuai pada saat melakukan kegiatan belajar. Bisa juga guru mengkombinasikan metode mengajar untuk memudahkan dalam penyampaian materi pada saat proses belajar mengajar, sehingga dapat dicapai keoptimalan belajar siswa dan tujuan pembelajaran dapat terpenuhi (Tim MKPMB, 2001).  &lt;br /&gt; Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa peranan metode dalam pembelajaran sangat berpengaruh, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pencapaian suatu tujuan pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, guru harus bisa memilih metode yang sesuai dengan kondisi dan situasi siswa yang akan diajar, supaya tujuan pembelajaran tercapai dengan hasil yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5 Pembelajaran Kooperatif &lt;br /&gt;Sistem pembelajaran kooperatif bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergatungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan proses kelompok. Metode pembelajaran kooperatif disebut juga metode pembelajaran gotong royong. Ironisnya model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok.&lt;br /&gt; Menurut Anshori (2008:3) langkah-langkah model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Tabel l. langkah - langkah model pembelajaran kooperatif &lt;br /&gt;Fase Tingkah laku guru&lt;br /&gt;fase 1&lt;br /&gt;Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa&lt;br /&gt; Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar&lt;br /&gt;Fase 2&lt;br /&gt;Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrsi atau lewat bahan bacaan&lt;br /&gt;Fase 3&lt;br /&gt;Mengkoordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar&lt;br /&gt; Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranaya membentuk kelompok belajar dan membantu seiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien&lt;br /&gt;Fase 4&lt;br /&gt;Membimbing kelompok bekerja dan belajar&lt;br /&gt; Guru membingbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka&lt;br /&gt;Fase 5 &lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt; Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang pernah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya&lt;br /&gt;Fase 6 &lt;br /&gt;Memberikan Penghargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibrahim (2000:6), Pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.&lt;br /&gt;2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah&lt;br /&gt;3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.&lt;br /&gt;4. Penghargaan lebih beroentasi kelompok ketimbang individu.&lt;br /&gt;Roger dan David Johnson (1993 : 54) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :&lt;br /&gt;a. Saling ketergantungan positif&lt;br /&gt;b. Tanggung jawab perseorangan &lt;br /&gt;c. Tatap muka&lt;br /&gt;d. Komunikasi antar anggota&lt;br /&gt;e. Evaluasi proses kelompok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6 Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan&lt;br /&gt;   Teknik mengajar Bercerita Berpasangan (Paired Storylelling) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Bahan pelajaran yang palin cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.&lt;br /&gt;Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa diransang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Bercerita berpasangan bisa digunakan untuk suasana tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan antara lain :&lt;br /&gt;1. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.&lt;br /&gt;2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberi hari itu.&lt;br /&gt;3. Siswa dipasangkan.&lt;br /&gt;4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.&lt;br /&gt;5. Kemudian siswa disuruh mendengarkan atau membaca bagian mereka masing-masing.&lt;br /&gt;6. Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frasa bisa disesuaikan dengan panjang teks bacaan.&lt;br /&gt;7. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.&lt;br /&gt;8. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;9. Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.&lt;br /&gt;10. Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.&lt;br /&gt;11. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilaksanakan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.&lt;br /&gt;(Bandono, 2008 : 3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-5369230844317792580?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/5369230844317792580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5369230844317792580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/5369230844317792580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-bahasa.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan Bahasa Indonesia'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-8005166449167901549</id><published>2010-01-11T00:33:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:10:12.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan Biologi</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;Pembelajaran pada hakikatnya adalah bagaimana PBM yang dilakukan guru dikelas berlangsung secara bermutu dan bermakna. Jadi, mutu pendidikan ditentukan didalam kelas melalui PBM.&lt;br /&gt;Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi sub sistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Sub sistem yang pertama dan utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah faktor guru. Ditangan gurulah hasil pembelajaran yang merupakan salah satu indikator mutu pendidikan lebih banyak ditentukan, yakni pembelajaran yang bermutu sekaligus sebagai pemberdaya kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didik.&lt;br /&gt;Agar dapat mengajar efektif, guru juga harus meningkatkan kemampuan bagi siswa (kuantitas) dan meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya. Kesempatan belajar siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar.&lt;br /&gt;Untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal dibutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan terus menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar dikelas. Oleh karena itu salah satu upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu proses belajar mengajar adalah melaksanakan penelitian kelas (PTK), dengan PTK kekurangan dan kelemahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar dapat teridentifikasi dan terdeteksi untuk selanjutnya dicari solusi yang tepat.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul: Meningkatkan Hasil Belajar Dan Aktivitas Siswa dengan Konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Word Square Di MTs Al - Istiqamah Baruh Panyambaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH &lt;br /&gt;1. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1. Bagaimana peningkatan pemahaman siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square?&lt;br /&gt;2. Bagaimana aktivitas siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square?&lt;br /&gt;3. Bagaimana aktivitas guru dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square?&lt;br /&gt;4. Bagaimana respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe word square?&lt;br /&gt;2. Batasan Masalah&lt;br /&gt;1. Pemahaman siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square.&lt;br /&gt;2. Aktivitas siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square.&lt;br /&gt;3. Aktivitas guru dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square&lt;br /&gt;4. Respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe word square  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Mengetahui peningkatan pemahaman siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square.&lt;br /&gt;2. Mengetahui aktivitas siswa dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square.&lt;br /&gt;3. Mengetahui aktivitas guru dalam konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square&lt;br /&gt;4. Mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Bagi sekolah, sebagai salah satu upaya dalam pengembangan pembelajaran Biologi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.&lt;br /&gt;2. Sebagai tambahan informasi bagi guru tentang model pembelajaran kooperatif tipeWord Square&lt;br /&gt;3. Bagi siswa, sebagai salah satu cara pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi mereka.&lt;br /&gt;4. Sebagai bahan pertimbangan dan acuan untuk penelitian selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Pengertian Belajar&lt;br /&gt;Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (1998: 84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu&lt;br /&gt;a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. &lt;br /&gt;b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.&lt;br /&gt;c. untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.&lt;br /&gt;Good dan Brophy dalam Purwanto (1998: 85) mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu "Learning is the deyelopment of new associations as a result ofexperience'". Selanjutnya dijelaskan bahwa "Belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internalevent). Belajar merupakan proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi di dalam din seseorang yang sedang mengalami belajar Jadi menurut Good dan Brophy yang dimaksud belajar bukanlah tingkah laku  yang nampak, tetapi adalah proses yang terjadi secara internal di dalam diri indiyidu dalam usahanya memperoleh hubungan hubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa: antara perangsang, antara reaksi, atau antara perangsang dan reaksi. Sedangkan menurut Usman &amp; Setiawati (2001:4) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berikut adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adaalah suatu proses perubahan dalam diri scscorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar&lt;br /&gt;Menurut Sudjana (2004: 39) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:&lt;br /&gt;l. Faktor dari dalam diri siswa yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti motivasi, minat, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, bakat dan kemampuan, fisik dan psikis. Faktor ini dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:&lt;br /&gt;a. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini adalah pancaindra contohnya sakit, cacat tubuh, dan perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor nonintelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyusuaian diri.&lt;br /&gt;c. Faktor kematangan fisik maupun fisikis. (Usman, 2000:10)&lt;br /&gt;2. Faktor dari luar atau lingkungan yaitu faktor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan dimana siswa tersebut berada seperti:&lt;br /&gt;a. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok. &lt;br /&gt;b. Faktor budaya, seperti adat kebiasaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.&lt;br /&gt;c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.&lt;br /&gt;d. Faktor lingkungan spritual atau keagamaan.&lt;br /&gt;(Usman, 2000:10)&lt;br /&gt;2.3 Metode-Metode Pembelajaran &lt;br /&gt;1. Metode ceramah&lt;br /&gt;Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.&lt;br /&gt;2. Metode tanya jawab&lt;br /&gt;Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.&lt;br /&gt;3. Metode diskusi&lt;br /&gt;Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.&lt;br /&gt;4. Metode belajar kooperatif&lt;br /&gt;Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.&lt;br /&gt;5. Metode demonstrasi&lt;br /&gt;Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.&lt;br /&gt;6. Metode ekspositori atau pameran&lt;br /&gt;Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.&lt;br /&gt;7. Metode karyawisata/widyamisata&lt;br /&gt;Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Metode penugasan&lt;br /&gt;Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.&lt;br /&gt;9. Metode eksperimen&lt;br /&gt;Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.&lt;br /&gt;10. Metode bermain peran&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.&lt;br /&gt;2.4 Pembelajaran Kooperatif&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan / tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).&lt;br /&gt;Pembelajaran dalam penerapan pembelajaran kooperatif, atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.&lt;br /&gt;Menurut teori psikodinamika, kelompok bukan hanya sekedar kumpulan individu melainkan merupakan satu kesatuan yang memiliki ciri dinamika dan emosi tersendiri&lt;br /&gt;Langkah - Langkah Dalam Pembelajaran Kooperatif&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran Kooperatif terdapat 6 langkah utama atau tahapan. pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.&lt;br /&gt;Tabel l. langkah - langkah model pembelajaran kooperatif &lt;br /&gt;Fase Tingkah laku guru&lt;br /&gt;fase 1&lt;br /&gt;Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa&lt;br /&gt; Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 2&lt;br /&gt;Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrsi atau lewat bahan bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 3&lt;br /&gt;Mengkoordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar&lt;br /&gt; Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranaya membentuk kelompok belajar dan membantu seiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 4&lt;br /&gt;Membimbing kelompok bekerja dan belajar&lt;br /&gt; Guru membingbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 5 &lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt; Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang pernah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya&lt;br /&gt;Fase 6 &lt;br /&gt;Memberikan Penghargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Word Square&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran kooperatif diberikan jenis pendekatan yang salah satunya word square. Pembelajaran kooperatif tipe word square merupakan pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran.&lt;br /&gt;Pada word square siswa dalam satu kelas tertentu dibagi menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, dan setiap kelompok haruslah heterogen yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya, dan kemudian saling membantu dalam melakukan diskusi.&lt;br /&gt;Metode diskusi yang digunakan dalam pembelajaran kooperatif tipe word square ini dengan tanya jawab, diskusi dan sebagainya, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.&lt;br /&gt;Menurut Akhmadsudrajad, 2008 ada 4 langkah utama didalam pembelajaran yang menggunakan model word square, yaitu :&lt;br /&gt;1). Penyajian kelas&lt;br /&gt;Tujuannya adalah menyajikan materi berdasarkan pembelajaran yang telah disusun. Setiap pembelajaran dengan model word square, selalu dimulai dengan penyajian kelas. Sebelum menyajikan materi, guru dapat memulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi untuk berkooperatif dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Tahapan kegiatan belajar kelompok&lt;br /&gt;Dalam kegiatan belajar kelompok, materi yang di gunakan adalah LKS (lembar kerja siswa ) untuk setiap kelompok&lt;br /&gt;3). Tahapan menguji kinerja individu&lt;br /&gt;Untuk menguji kinerja individu pada umumnya digunakan tes atau kuis. Setiap siswa wajib mengerjakan tes atau kuis. Setiap siswa berusaha untuk bertanggung jawab secara individual, melakukan yang terbaik sebagai kontribusinya kepada kelompok.&lt;br /&gt;4). Tahapan mengukur kinerja kelompok&lt;br /&gt;Penghargaan kelompok di berikan berdasarkan skor peningkatan kelompok yang di peroleh. Untuk menentukan skor pencapaian kelompok di gunakan rumus menurut Ibrahim, dkk ( 2000 ) dalam permana ( 2004 ) yaitu &lt;br /&gt;Nilai kelompok :Jumlah total skor peningkatan kelompok &lt;br /&gt;                              Jumlah anggota kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan poin peningkatan yang diperoleh terdapat tiga tingkat penghargaan kelompok yaitu :&lt;br /&gt;a. kelompok dengan poin rata-rata 15 sehingga kelompok baik &lt;br /&gt;b. kelompok dengan poin rata-rata 20 sehingga kelompok hebat &lt;br /&gt;c. kelompok dengan poin 25 sehingga kelompok super&lt;br /&gt;2.6 Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Penilitian tindak kelas atau PTK (Classroom Actionresearch) memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan (Action Research), dan penelitian tindakan ini bagian dari penelitian pada umumnya. &lt;br /&gt;Sedangkan menurut Rochiati, (2005) penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuntitatif, penilitian merupakan instrumen utama dalam pengumpulan data, proses sama pentingnya dengan produk. Perhatian peneliti diarahkan kepada pemahaman bagaimana berlangsungnya suatu kejadian atau efek dari suatu tindakan.&lt;br /&gt;PTK pertama kali di pakai oleh kurt kewin, pada waktu itu PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu sosial, dengan program tindakan sosial untuk menanggapi permasalahan sosial (Sukidin, dkk, 2002 ).&lt;br /&gt;2.7. Ciri-ciri makhluk hidup&lt;br /&gt;Keanekaragaman makhluk hidup bisa kita lihat dari ciri-ciri makhluk hidup itu sendiri. Bergerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup.akan tetapi boneka tidak mampu bergerak sehingga termasuk makhluk tak hidup. Inilah salah satu ciri makhluk hidup dengan makhluk tak hidup. Ada juga boneka yang dapat mengeluarkan suara seperti tangisan bayi,mampu memejamkan mata, bahkan ada boneka yang dapat menggerak- gerakkan kakinya. Mengapa demikian? kalian akan menemukan alasannya setelah memahami materi berikut.&lt;br /&gt;1. Bernapas (Respirasi)&lt;br /&gt;Suatu makhluk hidup dikatakan hidup apabila bernapas.semua makhluk hidup, sepaerti hewan, tumbuhan,dan manusia baik yang besar-kecil, tua¬-muda, melakukan proses ini. Ketika bernapas, makhluk hidup menghirup oksigen (02) dan menghembuskan karbon dioksida (C02).&lt;br /&gt;Oksigen diperlukan untuk proses oksidasi zat makanan yang menghasilkan energi dan karbon dioksida. Energi berguna untuk menjalankan kegiatan hidup. Reaksi oksidasi sebagai berikut :&lt;br /&gt; Zat makanan + oksigen  energi + uap air + karbon dioksida Sistem pernapasan pada makhluk hidup di bantu oleh alat -alat pernapasan. Alat pernapasan pada beberapa jenis makhluk hidup berbeda - beda. Misalnya manusia bernapas menggunakan paru - paru, katak menggunakan paru - paru dan permukaan kulitnya, ikan menggunakan insang, burung menggunakan paru - paru di bantu oleh kantung udara, dan cacing menggunakan permukaan kulit. Tumbuhan bernapas melalui stomata yang terdapat di permukaan daun dan lentisel yang terdapat di permukaan batang.&lt;br /&gt;2. Memerlukan Makanan (Nutrisi) .&lt;br /&gt;Selain diatas, makhluk hidup juga menunjukkan ciri-ciri lain yaitu makhluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidupnya. Makhluk hidup membutuhkan makanan selain sebagai sumber energi, makanan juga untuk pertumbuhan, dan mengganti sel-sel yang rusak. Tumbuhan hijau mampu memproduksi makanan sendiri, tumbuhan hijau sebagai produsen mengolah zat-zat anorganik menjadi zat organik (zat makanan) melalui proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau dengan bantuan cahaya, misalnya sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan yang tidak berklorofil, separti manusia dan hewan tidak dapat membuat makanannya sendiri. Oleh karena itu, untuk memperoleh makanan mereka bergantung pada organisme lain.&lt;br /&gt;3. Bergerak dan Reaksi terhadap Rangsang&lt;br /&gt;Tentu kalian pernah melihat seekor capung atau kupu-kupu sedang hinggap diranting. Apabila tiba-tiba kalian dekati hewan tersebut sambil bertepuk tangan,apa yang akan terjadi?ciri-ciri hidup apa yang dapat kalian temukan dari peristiwa tersebut ?&lt;br /&gt;Gerak merupakan perpindahan bagian tubuh. Gerak merupakan suatu tanggapan terhadap rangsang tertentu (iritabilitas). Hewan dan manusia dapat bergerak bebas sedangkan tumbuhan bergerak terbatas atau bergerak pada sebagian tuibuhnya. Tumbuhan bergerak dapat ditunjukkan seperti pada menutupnya daun tanaman putri malu bila tersentuh.&lt;br /&gt;Gerak dibedakan menjadi dua yaitu gerak aktif dan gerak pasif. Gerak aktif adalah gerak berpindah tempat,misalnya gerak menggunakan kaki, sayap, dan sirip. Sedangkan gerak pasif adalah gerak di tempat seperti tumbuh¬tumbuhan.&lt;br /&gt;4. Tumbuh dan Berkembang&lt;br /&gt;Coba amati diri kalian sekarang bandingkan dengan dulu sewaktu masih kecil usia 2- 4 th, tentu berbeda dengan usia kalian yang sudah duduk di kelas SMP. Itulah yang dinamakan makhluk hidup itu tumbuh, sama halnya dengan kita manusia, hewan dan turribuhan pun tumbuh, misalnya saja pada pad proses pertumbuhan biji kacang, biji tersebut dapat berkecambah dan menjadi tumbuhan karena mengalami pertumbuhan&lt;br /&gt;Jadi setiap makhluk hidup mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses penambahan biomassa yang tidak dapat kembali kekeadaan semula (irreversible). -&lt;br /&gt;5. Mengeluarkan Zat Sisa&lt;br /&gt;Semua makhluk hidup mengeluarkan zat sisa (ekskresi). Zat sisa pada manusia berupa urine, keringat dan karbon dioksida. Zat sisa tersebut hasil dari kegiatan metabolisme.urine dikeluarkan dari ginjal, keringat dikeluarkan melalui kulit, dan karbon dioksida dikeluarkan dari paru-paru. Zat sisa tersebut memang sudah tidak berguna bagi tubuh sehingga harus dikeluarkan. Jika zat tersebut tidak dikeluarkan maka dapat menjadi racun bagi tubuh yangbersangkutan. Tumbuhan juga mengeluarkan zat sisa berupa uap air dan karbon dioksida (C02). Keduanya dikeluarkan melalui mulut daun (stomata) dan dan lenti sel.&lt;br /&gt;6. Berkembang Biak (Reproduksi)&lt;br /&gt;Sebagai kelanjutan proses tumbuh dan berkembang, makhluk hidup melakukan perkembangbiakanyang menghasilkan keturunan untuk mempertahankan jenisnya dari kepunahan.perkembangbiakan pada tumbuhan dan hewan berlangsung secara kawin (generatif) atau secara tidak kawin (vegetatif). Makin rendah tingkatan makhluk hidup itu makin mudah dan cepat perkembangbiakannya.&lt;br /&gt;7. Makhluk Hidup Beradaptasi&lt;br /&gt;Adaptasi merupakan kemampuan makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungan hidupnya. Makhluk melakukan adaptasi agar dapat bertahan hidup dan dapat menghasilkan keturunan. Keberadaan nakhluk hidup dibumi tetap lestari jika mempunyai kemampuan beradaptasi.&lt;br /&gt;Selain hewan, tumbuhan juga mempunyai kemampuan beradaptasi, misalnya tumbuhan yang hidup didaerah kering mempunyai daun yang berukuran kecil, bahkan ada yang berbentuk seperti duri yang berfungsi untuk menyimpan cadangan air seperti kaktus.&lt;br /&gt;Persamaan atau Perbedaan Tumbuhan dan Hewan&lt;br /&gt;No Persamaan tumbuhan dan hewan Perbedaan&lt;br /&gt;  Tumbuhan Hewan&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt; Sama-sama melakukan proses pernapasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama menerima dan memberikan tanggapanterhadap rangsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama memerlukan makanan dan air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama dapat tumbuh dan berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama melakukan perkembangbiakan secara kawin dan tak kawin&lt;br /&gt; - tidak memiliki alat pernapasan khusus&lt;br /&gt;-  mengambil dan mengeluarkan gas secara pasif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Reaksi terhadap rangsang lambat, terbatas dan lebih pasif&lt;br /&gt;- Menetap atau bergerak&lt;br /&gt;-  Dapat menyusun makanan sendiri dari zat-zat Sederhana yang ada dilingkungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Makanan diambil dalam bentuk gas dan cair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tumbuh kembang berlangsung selama hidupnya dan ada pada daerah tubuh tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bentuk tubuh menyebar dan bercabang serta jumlah bagian tubuh tidak tentu Pembuahan terjadi didalam alat perkembangbiakan betina&lt;br /&gt;- Jumlah anak banyak yang tidak dipeliharadan dilindungi unduknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; - memiliki alat pernapasan khusus &lt;br /&gt;- mengambil dan mengeluarkan gas secara aktif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Reaksi terhadap rangsang cepat, simultan dan aktif&lt;br /&gt;- Dapat berpindah tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Makan makhluk hidup lain Makanan diambil dalam bentuk padat dan cair&lt;br /&gt;- Sama-sama dapat tumbuh dan berkembang Sama-sama dapat melakukan perkembangbiakan secara kawin dan tak kawin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tumbuh kembang terjadi pada masa tertentu dan serempak pada seluruh bagian tubuh&lt;br /&gt;- Bentuk tubuh tertentu dan jumlah bagian tubuh tertentu Pembuahan dapat terjadi didalam dan luar tubuh Jumlah anak terbatas yang dipelihara dan dilindungi induknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penelitian Yang Relevan&lt;br /&gt;1. Berdasarkan penelitian Andian Supriya (2006), tentang upaya meningkatkan pemahaman siswa kelas VI SDN 1 Kalasan pada konsep keseimbangan ekosistem dengan menggunakan model kooperatif tipe Word Square akan meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat meningkatkan prestasi belajar, motivasi dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA&lt;br /&gt;2. Berdasarkan penelitian Purwanti (2007), tentang upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui pengajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Word Square pada SDN  1 Purbalingga bahasan Mahluk hidup  dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa, ketuntasan siswa dalam belajar dan kualifikasi baik serta dapat memperbaiki prestasi akademik siswa dan membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu menggambarkan bagaimana tingkat pemahaman siswa pada konsep Memahami Keanekaragaman Makhluk Hidup menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Word Square.&lt;br /&gt;3.l. Tempat dan Waktu Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini dilaksanakan di kecamatan Halong Waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan selama 3 bulan.&lt;br /&gt;3.2. Subjek Penelitian&lt;br /&gt;Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII. A dengan jumlah siswa 26 yang terdiri dari 12 orang laki - laki dan 14 orang perempuan.&lt;br /&gt;3.3 Prosedur pelaksanaan penelitian&lt;br /&gt;Penelitiari ini dilaksanakan dalam 2 siklus sesuai dengan tahapan-tahapan penelitian tindakan yang meliputi : &lt;br /&gt; Siklus 1 Pertemuan I &lt;br /&gt;Siklus pertama dalam PTK ini terdiri dari perencanaan, pelak¬sanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Perencanaan (Planing)&lt;br /&gt;a. Tim peneliti melakukan imalisis kurikulum untuk me¬ngetahui kompetensi dasar- yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakaii pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;b. Membuat rencana pembelajaran kooperatif tipe word square. &lt;br /&gt;c. Membuat lembar kerja siswa&lt;br /&gt;d. Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK. &lt;br /&gt;e. Menyusun alat evaluasi pemhelajaran.&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan (Acting)&lt;br /&gt;a. Membagi siswa dalam delapan kelompok. &lt;br /&gt;b. Menyajikan materi pelajaran.&lt;br /&gt;c. Diberikan materi diskusi.&lt;br /&gt;d. Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok.&lt;br /&gt;e. Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.&lt;br /&gt;f. Guru memberikan kuis atau pertanyaan.&lt;br /&gt;g. Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan.&lt;br /&gt;h. Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama.&lt;br /&gt;i. Melakukan pengamatan atau observasi.&lt;br /&gt;3. Pengamatan (Observation)&lt;br /&gt;a. Situasi kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;b. Keaktifan siswa.&lt;br /&gt;c. Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok. &lt;br /&gt;4. Refleksi (Reflecting)&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi. beberapa syarat sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Sebagian besar (75% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru.&lt;br /&gt;b. Sebagian besar (70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang jawaban siswa yang lain.&lt;br /&gt;c. Sebagian besar (70% dari siswa) berani dan mampu untuk bertanya tentang materi pelajaran pada hari itu.&lt;br /&gt;d. Lebih dari 80% anggota kelompok aktif dalam mengerjakan tugas kelompoknya.&lt;br /&gt;e. Penyelesaian tugas kelompok sesuai dengan waktu yang disediakan.&lt;br /&gt;Siklus I Pertemuan 2&lt;br /&gt;Seperti halnya siklus pertama, siklus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.&lt;br /&gt;1. Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;Tim peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama.&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan (Acting)&lt;br /&gt;Guru melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan tipe word square berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus pertama.&lt;br /&gt;3. Pengamatan (Observation)&lt;br /&gt;Tim Peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;4. Refleksi (Reflecting)&lt;br /&gt;Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menyusun rencana (replaning) untuk siklus kedua. &lt;br /&gt;Siklus II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus kedua merupakan putaran kedua dari pembelajaran kooperatif tipe word square dengan tahapan yang sama seperti pada siklus pertama.&lt;br /&gt;1. Perencanaan (Planing)&lt;br /&gt;Tim peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua.&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan (Acting)&lt;br /&gt;Guru melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan tipe WORD SQUARE berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus I pertemuan 2.&lt;br /&gt;3. Pengamatan (Observation)&lt;br /&gt;Tim Peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;4. Refleksi (Reflecting)&lt;br /&gt;Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus ketiga dan menganalisis untuk serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe word square dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;3.4 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: &lt;br /&gt;1). Pemberian tes, teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar yang di capai siswa sebelum dan sesudah mengikuti pelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;2). Penyebaran angket, Yaitu untuk memperoleh data mengenai persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipa word square yang telah diikutinya. 3). Observasi, tekhnik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dalam belajar dan aktivitas guru dalam mengelola pelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe word square.&lt;br /&gt;3.5 Teknik analisis data&lt;br /&gt;Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : &lt;br /&gt;1). Analisis kualitatif&lt;br /&gt;Teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis aktivitas siswa hasil observasi keaktivan siswa, aktivitas pelaksanaan rencana pembelajaran oleh guru dari hasil koesioner siswa serta hasil sebaran angket yang diberikan kepada siswa dalam pembelajaran kooperatif tipa word square.&lt;br /&gt;2). Analisis kuantitatif&lt;br /&gt;Teknik analisis secara kuantitatif digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa (hasil tes yang diberikan) sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran, dan hasil sebaran angket yang diberikan kepada siswa setelah kegiatan mengajar.&lt;br /&gt;Teknik analisis yang digunakan untuk menentukan banyak siswa yang mampu menyelesaikan soal-soal pada setiap aspek yaitu analisis persentase  dengan rumus sebagai berikut:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;P = prosentasi siswa yang menjawab benar &lt;br /&gt;B = jumlah siswa yang menjawab benar &lt;br /&gt;N = jumlah siswa total&lt;br /&gt;(Arifin, 1999)&lt;br /&gt;Teknik analisis yang digunakan untuk mengukur bagaimana persepsi siswa dalam mengikuti pembelajaran , digunakan rumusan persentase (%);sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;P = Persentase yang diperoleh&lt;br /&gt;F = Frekuensi jawaban responden &lt;br /&gt;N = Jumlah responden yang ada&lt;br /&gt;( Porda, 2007 : 6)&lt;br /&gt;3.6 Indikator Keberhasilan&lt;br /&gt;Penelitian ini dikatakan berhasil dengan ketentuan sebagai berikut: Peningkatan pemahaman siswa dengan tercapainya ketuntasan belajar siswa yaitu &gt; 85% dari seluruh siswa dan mencapai ketuntasan individu &gt; 65%. kriteria ketuntasan belajar yaitu :&lt;br /&gt;l .ketuntasan Individual,  Jika siswa mencapai ketuntasan &gt; 65%. &lt;br /&gt;2. Ketuntasan Klasikal,  Jika &gt; 85% dari seluruh siswa mencapai ketuntasan &gt; 65%. &lt;br /&gt;Kurikulum 1994 dalam Yusuf (2003)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-8005166449167901549?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/8005166449167901549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-biologi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8005166449167901549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8005166449167901549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-biologi.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan Biologi'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-55041516749291528</id><published>2010-01-11T00:29:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:11:55.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh Skripsi Pendidikan Matematika</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt; Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bukan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan siswa dalam belajar, tetapi masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhinya dan pada hakekatnya merupakan usaha sadar manusia untuk mengembangkan aspek kepribadiannya sesuai dengan sifat¬sifatnya yang ada dalam masyarakat dan yang terlibat serta bertanggung jawab adalah keluarga, sekolah (pemerintah), dan masyarakat yang di kenal sebagai Tripusat Pendidikan (Tirtaraharjo dan Sula, 2001:187-188). Ketiga unsur tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan sangat berkaitan. Ini berarti bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt; Orang tua sebagai bagian yang paling penting terhadap usaha anak¬-anaknya meraih keberhasilan belajar di sekolah. Orang tua yang berpartisipasi dengan baik memberikan pengaruh terhadap keberhasilan anak-anaknya dalam belajar, terutama pada mata pelajaran matematika. Orang tua dapat menolong dan memandu anaknya dalam belajar matematika di rumah dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang tua biasanya selalu memberikan motivasi kepada anaknya, maupun pemberian perlengkapan belajar seperti buku, alat untuk berhitung dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Banyak para orang tua yang tidak sadar akan besarnya pengaruh peranannya terhadap keberhasilan anak belajar di sekolah. Mereka berpikir dengan mengirim anaknya ke sekolah mereka akan terlepas dari tanggung jawab terhadap kegiatan belajar anaknya. Partisipasi orang tua terhadap kegiatan belajar di rumah dan tugas-tugas lainnya mutlak diperlukan. Pengertian dan kesamaan visi antara guru dan orang tua dapatlah kiranya diwujudkan, sehingga pemahaman seperti itu akhirnya akan dapat mengantarkan kepada keberhasilan siswa dalam belajar, khususnya pengajaran matematika. Karena matematika adalah pelajaran yang memerlukan konsentrasi yang tinggi dalam mempelajarinya dan diharuskan banyak latihan yang sangat membantu siswa dalam belajar. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan belajar secara optimal banyak faktor-yang mempengaruhi diantaranya faktor psikologis. Kehadiran faktor-faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal. Sebaliknya, tanpa hadirnya faktor-faktor psikologis bisa jadi memperlambat proses belajar bahkan dapat pula menambah kesulitan dalam belajar (Sardiman, 1998:37).&lt;br /&gt; Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar matematika, maka siswa selalu dihadapkan pada berbagai masalah dalam pelajaran tersebut, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Hal ini harus dicari pemecahannya melalui upaya menanamkan proses berpikir logis, kritis, cermat, objektif dan kreatif, sehingga persoalan-persoalan matematika yang sering dijumpai siswa dapat diselesaikan dengan mudah, cepat dan tepat. &lt;br /&gt; Berkaitan dengan upaya meningkatkan prestasi belajar siswa diperlukan penelitian empirik sehingga diperoleh gambaran yang nyata tentang keterkaitan antara partisipasi dan prestasi belajar.&lt;br /&gt; Dari uraian di atas, timbul keinginan peneliti untuk mengetahui apakah ada hubungan antara partisipasi dengan prestasi belajar matematika tersebut. Sehingga peneliti merasa perlu untuk mengadakan suatu penelitian yang berjudul "Partisipasi Orang Tua Pada kegiatan Belajar dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMAN 1 Juai  Pada Mata Pelajaran Matematika ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2  Rumusan Masalah &lt;br /&gt; Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah partisipasi orang tua dalam membantu belajar anak-anaknya khususnya pelajaran matematika?&lt;br /&gt;2. Bagaimana prestasi belajar Siswa SMAN 1 Juai  Pada Mata Pelajaran Matematika?&lt;br /&gt;3. Apakah terdapat hubungan antara partisipasi orang tua dengan prestasi belajar matematika anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt; Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang tepat terhadap permasalahan diatas yakni:&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui tingkat partisipasi orangtua terhadap pelajaran anak-anaknya khususnya pada mata pelajaran matematika.&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui partisipasi orang tua dalam pelajaran matematika anaknya.&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh partisipasi orangtua terhadap hasil belajar anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Hipotesis&lt;br /&gt;Perumusan hipotesis alternatif (Ha) yang merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya. Hipotesis yang akan diuji kebenarannya adalah "ada hubungan Partisipasi Orang Tua Pada kegiatan Belajar dan Prestasi Belajar Siswa SMAN 1 Juai  Pada Mata Pelajaran Matematika ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Asumsi&lt;br /&gt;Asumsi dalam penelitian ini adalah bahwa partisipasi orang tua dalam kegiatan belajar anak sangat penting, baik partisipasi secara langsung ataupun partisipasi secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan &lt;br /&gt; Batasan masalah atau penegasan ruang lingkup masalah sebagai berikut : prestasi belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika yang dibatasi dalam kemampuan kognitif, dilihat pada nilai UAS SMAN 1 Juai Tahun Pelajaran 2008/2009 Semester I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7  Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Penulisan ini dapat bermanfaat antara lain:&lt;br /&gt;1. Bagi orang tua sebagai informasi tentang kondisi partisipasi mereka dalam proses pengajaran matematika, khususnya di SMAN 1 Juai.&lt;br /&gt;2. Bagi guru sebagai informasi tentang kondisi dan partispasi orang tua dalam kegiatan belajar siswa pada mata pelajaran matematika, hal ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan kepada guru dalam mengambil sikap dan solusi terhadap permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.8 Penegasan Istilah&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan orang tua adalah orang tua kandung atau orang tua asuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Pengertian Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar&lt;br /&gt; Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.&lt;br /&gt;Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Winkel (1996:53) belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:2)  memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”&lt;br /&gt;Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. &lt;br /&gt; Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah disebabkan oleh dua faktor yang ada pada diri individu itu sendiri dan faktor yang ada di luar individu atau faktor sosial. Yang termasuk ke dalam faktor individual adalah partisipasi orang tua. Sedangkan yang termasuk faktor sosiai antara lain faktor lingkungan sekolah, faktor guru, faktor keluarga dan lingkungan rumah. Masing-masing faktor tersebut dapat menyebabkan anak kurang berprestasi.&lt;br /&gt; Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut Usman &amp; Setiawati (2001:9) adalah faktor internal dan faktor eksternal.&lt;br /&gt;2.1 Faktor Internal&lt;br /&gt; Faktor internal berasal dari dalam diri siswa meliputi faktor jasmaniah (fisiologi) dan faktor psikologis.&lt;br /&gt;a. Faktor jasmaniah (fisiologi), yang termasuk faktor ini adalah panca indra yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, terdiri atas :&lt;br /&gt;(1) Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki. &lt;br /&gt;(2) Faktor non-intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi emosi dan penyesuaian diri.&lt;br /&gt;c. Faktor kematangan fisik maupun psikis&lt;br /&gt;2.2 Faktor Eksternal&lt;br /&gt; Faktor yang berasal dari luar siswa, meliputi : &lt;br /&gt;a. Faktor sosial, terdiri atas :&lt;br /&gt;(1) Lingkungan keluarga &lt;br /&gt;(2) Lingkungan sekolah &lt;br /&gt;(3) Lingkungan masyarakat &lt;br /&gt;(4) Lingkungan kelompok&lt;br /&gt;b.  Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.&lt;br /&gt;c.   Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.&lt;br /&gt;d.   Faktor lingkungan spritual dan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Evaluasi Hasil Belajar&lt;br /&gt; Fungsi evaluasi belajar bukan saja untuk mengetahui seberapa besar kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok (Arikunto, 1995:9) untuk dapat mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar ini, menurut Usman &amp; Setiawati (2001:9) dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian:&lt;br /&gt;a. Ulangan Harian &lt;br /&gt;Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan pendidik secara periodik untuk menilai/mengukur pencapaian kompetensi setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD) atau lebih. Ulangan harian merujuk pada indicator dari setiap KD. Bentuk ulangan harian selain tertulis juga secara lisan, praktik/perbuatan tugas dan produk sesuai dengan kompetensi yang akan diukur.&lt;br /&gt;Frekuensi dan bentuk ulangan harian dalam satu semester ditentukan oleh pendidik sesuai dengan keluasan kedalam materi. Salah satu manfaat ulangan harian adalah ketuntasan belajar siswa pada setiap kompetensi dasar lebih dini diketahui oleh pendidik. Dengan demikian ulangan ini dapat diikuti dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga perkembangan belajar siswa dapat segera diketahui sebelum akhir semester. Ulangan harian ini juga berfungsi sebagai diagnosis terhadap kesulitan belajar.&lt;br /&gt;b.Ulangan Tengah Semester&lt;br /&gt;Ulangan Tengah Semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran selama 8-9 minggu.&lt;br /&gt;Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator  yang mempresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. Bentuk ulangan tengah semester selain tertulis dapat juga secara lisan, prakatik/perbuatan, tugas dan produk. Ulangan ini dapat diikuti dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga kemajuan belajar siswa dapat diketahui sebelum akhir semester.&lt;br /&gt;c. Ulangan Akhir Semester&lt;br /&gt;Ulangan Akhir Semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik diakhir semester satu. Ulangan akhir semester dapat berbentuk tes tertulis, lisan, praktik/perbuatan pengamatan, tugas, produk. Ulangan ini dapat diikuti dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga kemajuan belajar siswa dapat diketahui sebelum akhir tahun pelajaran.&lt;br /&gt;d. Ulangan Kenaikan Kelas&lt;br /&gt;Ulangan Kenaikan Kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhri semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik diakhir semester genap. Cakupan  ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang mereprestasikan Kompetensi Dasar pada semester tersebut. Ulangan kenaikan kelas dapat berbentuk tes tertulis, lisan, praktik/perbuatan, pengamatan, tugas dan produk.&lt;br /&gt; Penilaian dari hasil tes tersebut dilambangkan dengan angka 0-100. Dalam penelitian ini gambaran tentang prestasi belajar matematika siswa dalam suatu ukuran nilai yang disajikan dalam nilai akhir yang diambil hanya dari perhitungan nilai Akhir Semester.&lt;br /&gt;Akhirnya disimpulkan bahwa penilaian terhadap prestasi belajar matematika pasti akan diperoleh hasil yang beraneka ragam yaitu sebagian siswa tidak berhasil atau kurang, sebagian siswa tersebut berprestasi sedang dan sebagian lain adalah kelompok siswa yang berhasil dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak&lt;br /&gt; Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa berasal dari luar siswa (faktor eksternal) adalah faktor lingkungan keluarga. Suatu keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, dan anak atau keluarga yang diperluas (di samping inti, ada orang lain : kakek/nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain). Seorang anak dalam kenyataannya lebih cenderung dekat kepada ibunya daripada ayahnya. Kenyataan ini dapat dipahami atas rasional bahwa memang dalam keseharian, ibu lebih dekat dengan anak¬-anaknya daripada ayahnya karena pekerjaan yang diembannya. Namun demikian, baik ayah maupun ibu memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pendidikan anaknya yaitu:&lt;br /&gt;1. Orang tua sebagai pemotivator belajar anak di luar sekolah.&lt;br /&gt;2. Orang tua sebagai pembimbing anak dirumah.&lt;br /&gt;3. Orang tua sebagai pengarah dan pelindung anak.&lt;br /&gt;4. Orang tua sebagai orang yang memenuhi kebutuhan anak, agar proses pendidikan anak dapat berhasil.&lt;br /&gt;    (Indoskripsi, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu situasi kondisi, suatu sistem penilaian pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Nazir, 2008:63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Populasi dan Sampel&lt;br /&gt; Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Juai Tahun Pelajaran 2008/2009, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak tiga kelas yaitu kelas X1, XI IPS1, dan XII IPS1 dan angket diujicobakan pada masing-masing kelas dengan diwakili 10 siswa tiap kelas sehingga diujicobakan terhadap 30 siswa dengan kelas yang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat seperti pada tabel berikut:&lt;br /&gt;Tabel 1. Distribusi Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;No Kelas Jumlah Keterangan&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;10 X1&lt;br /&gt;X2&lt;br /&gt;X3&lt;br /&gt;X4&lt;br /&gt;XI IPA1&lt;br /&gt;XI IPS1&lt;br /&gt;XI IPS2&lt;br /&gt;XII IPS1&lt;br /&gt;XII IPS2&lt;br /&gt;XII IPA 35&lt;br /&gt;34&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;34&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;34        Ujicoba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel/Ujicoba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel/Ujicoba&lt;br /&gt;JUMLAH 338 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2  Instrumen Penelitian&lt;br /&gt;Untuk memperoleh data tentang partisipasi orang tua digunakan angket skala reting (rating scala) dengan 3 dan 2 skala yang menunjuk pada skor tertentu. Pada tahap awal angket disusun oleh peneliti sebanyak 15 butir dengan berpedoman pada indikator yang telah ditetapkan dengan kisi-kisi sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tabel 2. Kisi-kisi instrumen variabel partisipasi orang tua&lt;br /&gt;No Variabel Sub Variabel Indikator Nomor butir Jumlah&lt;br /&gt;    (+) (-) &lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Partisipasi orang tua Perhatian&lt;br /&gt; Memperhatikan nilai matematika&lt;br /&gt; Menanyakan pelajaran&lt;br /&gt; Memeriksa raport&lt;br /&gt;Sarana&lt;br /&gt; Tempat belajar&lt;br /&gt; Kelengkapan alat belajar&lt;br /&gt; Les tambahan&lt;br /&gt;Sikap&lt;br /&gt; Sikap jika ada Tugas Sekolah&lt;br /&gt; Menyarankan belajar kelompok&lt;br /&gt;Dorongan&lt;br /&gt; Pemberian pujian, nasehat dan hadiah jika berhasil&lt;br /&gt; Membantu jika dalam kesulitan&lt;br /&gt; Menyebutkan perhatian orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebutkan sarana-sarana yang diberikan orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebutkan sikap yang diberikan orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebutkan dorongan yang diberikan orang tua 5 6 7 8 9 15 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 2 3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 11 14 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 13  7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;   Jumlah   15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Angket yang digunakan disusun dengan memperhatikan indikator partisipasi orang tua yang terdiri dari 15 item dengan masing-masing 3 dan 2 option. Setiap option diberi skor dengan sistem penskoran sebagai berikut : &lt;br /&gt;Tabel 3. Pedoman penskoran angket partisipasi orang tua&lt;br /&gt;Jenis Pertanyaan - pertanyaan Skor pada alternatif&lt;br /&gt; Ada/sering Kadang-kadang Tidak pernah&lt;br /&gt;Positif&lt;br /&gt;Negatif 3&lt;br /&gt;1 2&lt;br /&gt;2 1&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt; Sebelum digunakan terhadap sampel penelitian, angket di uji cobakan terhadap sampel uji setelah di uji cobakan kemudian hasil uji coba tersebut dianalisis dengan menguji tingkat validitas dan reabilitas butir soal. Untuk mengukur validitas angket menggunakan rumus korelasi Product Moment sebagaimana ditulis oleh Arikunto (1995 :72).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;keterangan :&lt;br /&gt;rxy  = korelasi antara butir angket dengan skor totalnya&lt;br /&gt;X = skor yang diperoleh responden pada butir yang akan di uji validitasnya&lt;br /&gt;Y = skor total yang diperoleh setiap siswa&lt;br /&gt;N = banyak responden uji coba&lt;br /&gt; Setelah butir-butir yang tidak valid digugurkan, kemudian dihitung koefisien realibilitas instrumen dengan menggunakan rumus alpha sebagaimana ditulis oleh Arikunto :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;r11        = koefisien reliabilitas &lt;br /&gt;n      = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal &lt;br /&gt; = jumlah varians butir&lt;br /&gt;      = varians total&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Prosedur Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan menggunakan teknik angket dan dokumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Teknik angket&lt;br /&gt;Teknik angket dipergunakan untuk memperoleh data yang mengenai partisipasi orang tua terhadap siswa, yang mana angket disebarkan pada siswa sebagai objek penelitian.&lt;br /&gt;b. Teknik dokumentasi&lt;br /&gt;Teknik Dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar matematika dengan mengambil nilai hasil ulangan kenaikan kelas yang ada pada guru.&lt;br /&gt;  3.4.1 Variabel penelitian&lt;br /&gt;Dalam suatu penelitian ada 2 macam variabel, yaitu :&lt;br /&gt;1. Variabel pengaruh / Variabel bebas &lt;br /&gt;2. Variabel terpengaruhVariabel terikat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Teknik Analisis Data &lt;br /&gt;3.4.1 Pengolahan Data&lt;br /&gt; Sebelum hipotesis di uji, maka data yang dikumpulkan melalui angket terlebih dahulu dilakukan pengolahan data. Pengolahan data yang dimaksud adalah pengelompokkan data menurut kategori pengelompokkan data menurut Azwar, Saifuddin (1998:108) sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tabel 4. Pedoman sebaran data penelitian &lt;br /&gt;Interval Kategori&lt;br /&gt;                x ≤– 1,5 &lt;br /&gt;– 1,5 &lt; x &lt; + 0,5 &lt;br /&gt;– 0,5 &lt; x &lt; + 0,5 &lt;br /&gt;+ 0,5 &lt; x &lt; + 0,5 &lt;br /&gt;+ 1,5 &lt; x&lt;br /&gt;Sangat rendah&lt;br /&gt;Rendah&lt;br /&gt;Cukup&lt;br /&gt;Tinggi&lt;br /&gt;Sangat tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam populasi teoritik yang mengikuti sebaran normal standar Distribusi populasi di atas tampaknya sangat layak untuk digunakan sebagai dasar kategorisasi subjek, sehingga apabila diterapkan dalam penelitian berikut yang secara teoritis kemungkinan skornya berkisar dari 13 sampai dengan 32,5 dan akan menghasilkan kategori skor sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tabel 5. Kategori partisipasi orang tua&lt;br /&gt;Nilai Kategori Skor&lt;br /&gt;        x ≤ 13&lt;br /&gt;13&lt;  x &lt; 19,5&lt;br /&gt;19 &lt; x &lt; 26&lt;br /&gt;       26 &lt; x &lt; 32,5      Sangat rendah&lt;br /&gt;Rendah&lt;br /&gt;Cukup&lt;br /&gt;Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Untuk prestasi belajar digunakan konversi skala 5 yaitu untuk memberikan interpretasi pada hasil yang diperoleh, sebagaimana yang dikemukakan oleh Tapilaw (1998:271) yakni sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tabel 6. Kategori Tingkat Prestasi  belajar matematika. &lt;br /&gt;Tingkat Prestasi Tingkat Kategori&lt;br /&gt;0%   - 54%&lt;br /&gt;55% - 64%&lt;br /&gt;65% - 79%&lt;br /&gt;80% - 89%&lt;br /&gt;90% - 100% Sangat rendah&lt;br /&gt;Rendah&lt;br /&gt;Cukup&lt;br /&gt;Tinggi&lt;br /&gt;Sangat tinggi&lt;br /&gt;  Dengan terlebih dahulu menentukan persen, yaitu besarnya nilai yang seharusnya dicapai jika tes tersebut dikerjakan dengan hasil 100% dengan rumus penilaian sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;keterangan : &lt;br /&gt;P  = tingkat penguasaan dalam persentase &lt;br /&gt;F  = frekuensi&lt;br /&gt;N  = banyaknya siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2 Pengujian Hipotesis&lt;br /&gt;  Untuk menguji hipotesis, digunakan Uji independen dua faktor  sebagai berikut :&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;X2  adalah nilai khi-kuadrat&lt;br /&gt;fo  adalah frekuensi hasil pengamatan&lt;br /&gt;fe adalah frekuensi teoretis atau ekspektasi (harapan)&lt;br /&gt;(Sudjana: 1987:160)&lt;br /&gt;dari hasil X2 kita dapat memberikan interpretasi dengan menggunakan (db) = N - 2 dan taraf signifikansi 5% dengan kriteria :&lt;br /&gt;Jika thitung &lt; ttabel, maka Ho diterima &lt;br /&gt;Jika thitung &gt; ttabel, maka Ho ditolak&lt;br /&gt;(Sudijono, 2008:382)&lt;br /&gt;Untuk mengukur kadar asosiasi atau relasi anatar dua himpunan atribut dapat kita gunakan koefisien kontingensi atau C dengan rumus:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;X2 = chi kuadrat&lt;br /&gt;N  =  jumlah sampel&lt;br /&gt;C  =  koefisien kontingensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sudjana: 1987:160)&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan analisis korelasi yaitu untuk mengetahui besarnya kontribusi partisipasi orang tua terhadap prestasi belajar matematika digunakan deteminasi c x 100%.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-55041516749291528?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/55041516749291528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-matematika.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/55041516749291528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/55041516749291528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-skripsi-pendidikan-matematika.html' title='Contoh Skripsi Pendidikan Matematika'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-8695184210119536280</id><published>2010-01-11T00:21:00.000-08:00</published><updated>2010-05-28T00:13:58.701-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>Contoh PTK Universitas Terbuka</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang  Masalah&lt;br /&gt;Kualitas kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan (Nurhadi dan Senduk, 2003). Pendidikan yang diselenggarakan harus mampu mencetak sumber daya manusia yang lebih siap untuk terjun dan berperan aktif dalam kehidupan nyata. Konkretnya pendidikan itu harus mampu menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang mampu melayani dirinya sendiri dan orang lain serta dapat mengisi dan berperan aktif di berbagai sendi kehidupan secara kompetitif. &lt;br /&gt;Mencetak sumber daya manusia yang lebih siap untuk terjun dan berperan aktif dalam kehidupan nyata merupakan tanggung jawab guru. Sehingga guru merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas berhasilnya proses pembelajaran yang dilakukan dikelas. Guru berkewajiban  mempersiapkan rencana pembelajaran, alat peraga, buku-buku penunjang dan alat evaluasinya.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan di SDN Gulinggang kelas V dalam proses pembelajaran IPA, guru dalam menyampaikan materi IPA masih menekankan konsep-konsep yang terdapat di dalam buku. Sebenarnya cara penyampaian guru yang cenderung tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dan akan membawa pembelajaran pada kondisi yang membosankan dan tidak merangsang pola berpikir siswa. Salah satu konsep yang diajarkan berkelanjutan cenderung diberikan secara konseptual belaka adalah konsep tentang Alat pencernaan makanan dan kesehatan.&lt;br /&gt;Materi  Alat pencernaan makanan dan kesehatan bukanlah materi yang sukar, tetapi menjadi tidak mudah apabila ketika diberikan secara langsung kepada siswa dengan menggunakan penyampaian secara konseptual saja atau dengan menggunakan metode ceramah. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah cooperative script.&lt;br /&gt;Oleh karena itu perlu dilakukan Perbaikan pembelajaran dengan  “Penggunaan Pembelajaran cooperative script dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Gulinggang pada konsep  Alat pencernaan makanan dan kesehatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan masalah&lt;br /&gt;Sehubungan dengan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep  Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran  cooperative script?&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah aktifitas  siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep  Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Perbaikan&lt;br /&gt;Adapun penelitian ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan hasil belajar siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep  Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran  cooperative script.&lt;br /&gt;2. Mengetahui  aktifitas  siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep  Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manfaat  perbaikan&lt;br /&gt;Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat:&lt;br /&gt;1. Bagi siswa dapat meningkatkan aktivitas belajar, meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa .&lt;br /&gt;2. Bagi guru sebagai bahan masukan dan perbandingan untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran dikelas.&lt;br /&gt;3. Bagi kepala sekolah diharapkan hasil penelitian ini menjadi sumbangan pemikiran untuk melakukan supervisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Belajar&lt;br /&gt;Menurut Sardiman (2007 : 22 ) mengatakan bahwa belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya sedangkan menurut Djamarah (2006:10) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (2006: 84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:&lt;br /&gt;a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. &lt;br /&gt;b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.&lt;br /&gt;c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;Mengajar merupakan proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Berbagai kegiatan maupun tindakan harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar&lt;br /&gt;Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan  siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah  70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% pengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan Carol (1997:16) berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa di pengaruhi oleh lima faktor, yakni (a) bakat pelajar, (b) waktu yang tersedia untuk belajar, (c) waktu yang diperlukan siswa untul menjelaskan pelajaran, (d) kualitas pengajaran, dan (e) kemampuan individu. Empat faktor yang disebut di atas (a b c e) berkenaan dengan kemampuan individu dan faktor (d) adalah faktor di luar individu  (lingkungan) (Sudjana, 2004:39).&lt;br /&gt;C. Pembelajaran Kooperatif&lt;br /&gt;Dalam upaya peningkatan pembelajaran siswa diperlukan metode dalam mengajar. Metode mengajar ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. (Sudjana, 2004:76).&lt;br /&gt;Salah satu metode mengajar yang mulai banyak digunakan adalah metode Pembelajaran Kooperatif.&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran (Ashori, 2009).&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar melalui penempatan siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran.&lt;br /&gt;Tabel l. langkah - langkah model pembelajaran kooperatif &lt;br /&gt;Fase Tingkah laku guru&lt;br /&gt;fase 1&lt;br /&gt;Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa&lt;br /&gt; Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 2&lt;br /&gt;Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrsi atau lewat bahan bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 3&lt;br /&gt;Mengkoordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar&lt;br /&gt; Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranaya membentuk kelompok belajar dan membantu seiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 4&lt;br /&gt;Membimbing kelompok bekerja dan belajar&lt;br /&gt; Guru membingbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 5 &lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt; Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang pernah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya&lt;br /&gt;Fase 6 &lt;br /&gt;Memberikan Penghargaan&lt;br /&gt; Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah:&lt;br /&gt;1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya.&lt;br /&gt;2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda.&lt;br /&gt;3) Bilamana mungkin, anggota kelompok juga berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.&lt;br /&gt;4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.&lt;br /&gt;Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya 3 tujuan pembelajaran yaitu:&lt;br /&gt;1. Kemampuan akademik.&lt;br /&gt;2. Penerimaan perbedaan individu.&lt;br /&gt;3. Pengembangan keterampilan sosial.&lt;br /&gt;Pembelajaran kooperatif ada beberapa jenis antara lain Student Teams-Achievement Division (STAD); Teams Games¬Tournaments (TGT); Jigsaw; Think-Pair-Share (TPS); dan Numbered  Head an together (NHT); Script.&lt;br /&gt;Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. (Sutrisni Andayani, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pembelajaran Cooperative script&lt;br /&gt;Cooperative script adalah metode belajar dimana siswa bekerja  berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtiarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembelajaran Cooperative script adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.&lt;br /&gt;2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan&lt;br /&gt;3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.&lt;br /&gt;4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya sementara pendengar menyimak/menunjukan ide-ide pokok yang kurang lengkap, membantu mengingat ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya.&lt;br /&gt;5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.&lt;br /&gt;6. Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.&lt;br /&gt;7. Penutup.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PELAKSANAAN PERBAIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Subjek Penelitian&lt;br /&gt;Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V SDN Gulinggang  Kecamatan Juai Kabupaten Balangan dengan jumlah siswa 7 orang yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. mata pelajaran yang dijadikan bahan penelitian adalah IPA. Dengan dasar pemikiran lemahnya kemampuan pemahaman siswa terhadap materi  Alat pencernaan makanan dan kesehatan. Kemampuan yang akan ditingkatkan diharapkan menjadi modal untuk  naik kelas VI dan kelas berikutnya pada jenjang pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Deskripsi per siklus &lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas ini direncakan dalam dua siklus dengan langkah-langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. siklus I&lt;br /&gt;a. Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;1) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan&lt;br /&gt;2) Membuat lembar observasi aktivitas siswa&lt;br /&gt;3) Mempersiapkan alat peraga dan alat pendukung lainnya&lt;br /&gt;4) Membuat instrumen evaluasi untuk mengukur hasil belajar&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan tindakan kelas (action)&lt;br /&gt;Tindakan kelas dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dengan menerapkan scenario pembelajaran ( RPP) yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;c. Pelaksanaan observasi (Observation)&lt;br /&gt;Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan menggunakan format tertentu. Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan proses dan pengaruh tindakan yang telah diberikan. Hasil observasi dijadikan acuan dalam kegiatan refleksi.&lt;br /&gt;Data diperoleh adalah data aktivitas siswa adalah data hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Cara pengumpulan data &lt;br /&gt;1) Data aktivitas siswa diambil dengan lembar observasi aktivitas siswa &lt;br /&gt;2) Data hasil belajar siswa diambil dengan lembar tes pada setiap tindakan maupun tes akhir siklus&lt;br /&gt;Dengan kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 85% siswa berhasil memperoleh nilai 65 dalam menyelesaikan soal tes akhir siklus  pada materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan, juga aktivitas siswa terlihat meningkat.&lt;br /&gt;d. Refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;Setelah observasi dilakukan maka dilaksanakan refleksi dengan mengkaji. Memperhatikan dan merenungkan kembali hasil atau dampak dari tindakan yang sudah yang sudah dicatat dalam observasi. Hasil analisis data merupakan dasar dalam merevisi rencana untuk diterapkan pada siklus berikutnya.&lt;br /&gt;2. Siklus II&lt;br /&gt;a. Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;Merumuskan tindakan baru sesuai dengan temuan pada observasi. Semua siswa disusun dan dirumuskan dengan memperhatikan refleksi pada siklus pertama&lt;br /&gt;1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran  &lt;br /&gt;2) menyusun instrumen evaluasi&lt;br /&gt;3) merumuskan tindakan baru/mengembangkan pembelajaran pada siklus I&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan tindakan kelas (action)&lt;br /&gt;Melaksanakan tindakan seperti yang disusun atau dirumuskan pada siklus pertama dengan memberikan remedial/perbaikan dan menyempurnakan strategi. Memberikan bimbingan bagi siswa secara individual dan klasikal.&lt;br /&gt;c. Pelaksanaan observasi (Observation)&lt;br /&gt;Mendokumentasikan proses dan dampak tindakan yang telah diberikan dari awal sampai hasil evaluasi yang dilaksanakan.&lt;br /&gt;d. Refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;Refleksi tindakan pada siklus II diterapkan berdasarkan hasil observasi dan evaluasi. diharapkan permasalahan terselesaikan bila permasalahan terselesaikan maka kegiatan dihentikan, jika belum maka dapat dipertimbangkan untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya. Siklus berakhir apabila pola kesulitan dari siklus sudah ditemukan dan dapat diatasi sesuai dengan kriteria yang diterapkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-8695184210119536280?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/8695184210119536280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-ptk-universitas-terbuka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8695184210119536280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/8695184210119536280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2010/01/contoh-ptk-universitas-terbuka.html' title='Contoh PTK Universitas Terbuka'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-26652334270473818</id><published>2009-12-04T01:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-04T01:42:54.096-08:00</updated><title type='text'>KONSULTAN PENYUSUNAN SKRIPSI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SxjZkLJ3CeI/AAAAAAAAADs/VnbV8IJFHn4/s1600-h/logo+SAS.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 312px; height: 312px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SxjZkLJ3CeI/AAAAAAAAADs/VnbV8IJFHn4/s320/logo+SAS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411314167778314722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa yang berdomisili di banua 5 (HSS, HST, HSU, Balangan, Tabalong) dan sedang menghadapi skripsi. "Sapta" Konsultan skripsi akan membantu mahasiswa dalam menyusun skripsi. mulai dari penyusunan proposal sampai selesai, terhitung 1 Desember 2009 tercatat sudah 52 mahasiswa yang menggunakan jasa kami dengan nilai akhir skripsi A 33%,B+ 55%, B 10% dan C+ 2%. bagi mahasiswa yang berminat dengan penawaran bantuan bimbingan penyusunan skripsi ini dapat kirim e-mail kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-26652334270473818?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/26652334270473818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/12/konsultan-penyusunan-skripsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/26652334270473818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/26652334270473818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/12/konsultan-penyusunan-skripsi.html' title='KONSULTAN PENYUSUNAN SKRIPSI'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SxjZkLJ3CeI/AAAAAAAAADs/VnbV8IJFHn4/s72-c/logo+SAS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-1218600903050181278</id><published>2009-02-11T06:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T06:31:56.379-08:00</updated><title type='text'>Megawati nataliasari, septiani</title><content type='html'>gue mau ucapin salam buat temen2 gue dulu di jakarta ada:&lt;br /&gt;1. Megawati Nataliasari, Alumni Universitas Trisakti Jakbar&lt;br /&gt;2. Septiani ( Neni), Alumni Universitas Trisakti&lt;br /&gt;3. Wahyu, Ramayana&lt;br /&gt;4. Nia, Mia, esprezo&lt;br /&gt;5.Sari , Giordano MTA&lt;br /&gt;6. N teman2 yang kenal sama gue,&lt;br /&gt;jangan lupa klo buka blog ini please kirim email ke gue di &lt;a href="mailto:ragil8233@yahoo.co.id"&gt;ragil8233@yahoo.co.id&lt;/a&gt; di jamin gue balas. salam hangat N see u.&lt;br /&gt;by Ragil AMIK BSI Salemba 22&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-1218600903050181278?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/1218600903050181278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/02/megawati-nataliasari-septiani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/1218600903050181278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/1218600903050181278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/02/megawati-nataliasari-septiani.html' title='Megawati nataliasari, septiani'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-272661043694138809</id><published>2009-01-31T17:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T17:17:38.473-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CONTOH SKRIPSI GRATIS'/><title type='text'>CONTOH SKRIPSI GRATIS PENDIDIKAN MATEMATIKA, BIOLOGI, BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SYT33OyTARI/AAAAAAAAACI/e58_HJvotM4/s1600-h/bungas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297631589928468754" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SYT33OyTARI/AAAAAAAAACI/e58_HJvotM4/s320/bungas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagi teman-teman mahasiswa yang membutuhkan contoh skripsi Pendidikan matematika, biologi ,bahasa Indonesia bisa mendowload disini, GRATIS&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-272661043694138809?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/272661043694138809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/contoh-skripsi-gratis-pendidikan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/272661043694138809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/272661043694138809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/contoh-skripsi-gratis-pendidikan.html' title='CONTOH SKRIPSI GRATIS PENDIDIKAN MATEMATIKA, BIOLOGI, BAHASA INDONESIA'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SYT33OyTARI/AAAAAAAAACI/e58_HJvotM4/s72-c/bungas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-3681647624489235280</id><published>2009-01-16T04:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T04:44:35.656-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alumni'/><title type='text'>ALUMNI AMIK-BSI Salemba tahun 2005</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXCASRsaLkI/AAAAAAAAABQ/usd0hNqQfbQ/s1600-h/RAGIL2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291870613636001346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; CURSOR: hand; HEIGHT: 100px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXCASRsaLkI/AAAAAAAAABQ/usd0hNqQfbQ/s320/RAGIL2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;buat teman-teman alumni AMIK-BSI Manajemen Informatika kelas sore tahun 2005 , salam kangen aja dari gue. klo ada teman gue yang lihat blog ini tolong kirim e-mail ke e-mailku ya di ragil8233@yahoo.co.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-3681647624489235280?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/3681647624489235280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/alumni-amik-bsi-salemba-tahun-2005.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/3681647624489235280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/3681647624489235280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/alumni-amik-bsi-salemba-tahun-2005.html' title='ALUMNI AMIK-BSI Salemba tahun 2005'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXCASRsaLkI/AAAAAAAAABQ/usd0hNqQfbQ/s72-c/RAGIL2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1758508938740698193.post-7018623174661343885</id><published>2009-01-16T04:17:00.001-08:00</published><updated>2009-01-16T04:49:55.098-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkuliahan'/><title type='text'>STKIP PGRI BANJARMASIN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXB-n8Tyw8I/AAAAAAAAABI/JfGP_Ne1pGI/s1600-h/RAGIL2copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291868786829476802" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 67px; CURSOR: hand; HEIGHT: 89px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXB-n8Tyw8I/AAAAAAAAABI/JfGP_Ne1pGI/s320/RAGIL2copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagi teman-teman mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin yang berdomisili di paringin, jika butuh informasi tentang perkuliahan bisa kirim e-mail kesaya di &lt;a href="mailto:ragil8233@yahoo.co.id"&gt;ragil8233@yahoo.co.id&lt;/a&gt;. semoga saja kita dapat sukses dapat perkuliahan kita and cepat bagi teman2 yang belum dapat pekerjaan semoga saja cepat dapat pekerjaan. semoga. amien.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1758508938740698193-7018623174661343885?l=slametno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametno.blogspot.com/feeds/7018623174661343885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7018623174661343885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1758508938740698193/posts/default/7018623174661343885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametno.blogspot.com/2009/01/blog-post.html' title='STKIP PGRI BANJARMASIN'/><author><name>slametno,S.Pd,S.Kom</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13649436122408031361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SkyjWDBvBUI/AAAAAAAAADE/kWpgqwmOwiE/S220/edit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDQquoGHVcw/SXB-n8Tyw8I/AAAAAAAAABI/JfGP_Ne1pGI/s72-c/RAGIL2copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
