(PNS Pemkab. Balangan, Direktur STKOM SAPTA COMPUTER)

Senin, 11 Januari 2010

Contoh PTK Universitas Terbuka

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kualitas kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan (Nurhadi dan Senduk, 2003). Pendidikan yang diselenggarakan harus mampu mencetak sumber daya manusia yang lebih siap untuk terjun dan berperan aktif dalam kehidupan nyata. Konkretnya pendidikan itu harus mampu menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang mampu melayani dirinya sendiri dan orang lain serta dapat mengisi dan berperan aktif di berbagai sendi kehidupan secara kompetitif.
Mencetak sumber daya manusia yang lebih siap untuk terjun dan berperan aktif dalam kehidupan nyata merupakan tanggung jawab guru. Sehingga guru merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas berhasilnya proses pembelajaran yang dilakukan dikelas. Guru berkewajiban mempersiapkan rencana pembelajaran, alat peraga, buku-buku penunjang dan alat evaluasinya.
Berdasarkan pengamatan di SDN Gulinggang kelas V dalam proses pembelajaran IPA, guru dalam menyampaikan materi IPA masih menekankan konsep-konsep yang terdapat di dalam buku. Sebenarnya cara penyampaian guru yang cenderung tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dan akan membawa pembelajaran pada kondisi yang membosankan dan tidak merangsang pola berpikir siswa. Salah satu konsep yang diajarkan berkelanjutan cenderung diberikan secara konseptual belaka adalah konsep tentang Alat pencernaan makanan dan kesehatan.
Materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan bukanlah materi yang sukar, tetapi menjadi tidak mudah apabila ketika diberikan secara langsung kepada siswa dengan menggunakan penyampaian secara konseptual saja atau dengan menggunakan metode ceramah. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah cooperative script.
Oleh karena itu perlu dilakukan Perbaikan pembelajaran dengan “Penggunaan Pembelajaran cooperative script dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Gulinggang pada konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan”.

B. Rumusan masalah
Sehubungan dengan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :
1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script?
2. Bagaimanakah aktifitas siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script?

C. Tujuan Perbaikan
Adapun penelitian ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan hasil belajar siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script.
2. Mengetahui aktifitas siswa Kelas V SDN Gulinggang Tentang konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan dengan Menggunakan Pembelajaran cooperative script.

D. Manfaat perbaikan
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Bagi siswa dapat meningkatkan aktivitas belajar, meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Alat pencernaan makanan dan kesehatan sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa .
2. Bagi guru sebagai bahan masukan dan perbandingan untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran dikelas.
3. Bagi kepala sekolah diharapkan hasil penelitian ini menjadi sumbangan pemikiran untuk melakukan supervisi.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar
Menurut Sardiman (2007 : 22 ) mengatakan bahwa belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya sedangkan menurut Djamarah (2006:10) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (2006: 84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:
a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
Mengajar merupakan proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Berbagai kegiatan maupun tindakan harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% pengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan Carol (1997:16) berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa di pengaruhi oleh lima faktor, yakni (a) bakat pelajar, (b) waktu yang tersedia untuk belajar, (c) waktu yang diperlukan siswa untul menjelaskan pelajaran, (d) kualitas pengajaran, dan (e) kemampuan individu. Empat faktor yang disebut di atas (a b c e) berkenaan dengan kemampuan individu dan faktor (d) adalah faktor di luar individu (lingkungan) (Sudjana, 2004:39).
C. Pembelajaran Kooperatif
Dalam upaya peningkatan pembelajaran siswa diperlukan metode dalam mengajar. Metode mengajar ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. (Sudjana, 2004:76).
Salah satu metode mengajar yang mulai banyak digunakan adalah metode Pembelajaran Kooperatif.
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran (Ashori, 2009).
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar melalui penempatan siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
Tabel l. langkah - langkah model pembelajaran kooperatif
Fase Tingkah laku guru
fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrsi atau lewat bahan bacaan

Fase 3
Mengkoordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranaya membentuk kelompok belajar dan membantu seiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membingbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang pernah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6
Memberikan Penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok



Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah:
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda.
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok juga berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.
4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya 3 tujuan pembelajaran yaitu:
1. Kemampuan akademik.
2. Penerimaan perbedaan individu.
3. Pengembangan keterampilan sosial.
Pembelajaran kooperatif ada beberapa jenis antara lain Student Teams-Achievement Division (STAD); Teams Games¬Tournaments (TGT); Jigsaw; Think-Pair-Share (TPS); dan Numbered Head an together (NHT); Script.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. (Sutrisni Andayani, 2008).

D. Pembelajaran Cooperative script
Cooperative script adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtiarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah pembelajaran Cooperative script adalah sebagai berikut:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya sementara pendengar menyimak/menunjukan ide-ide pokok yang kurang lengkap, membantu mengingat ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.
6. Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.
7. Penutup.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V SDN Gulinggang Kecamatan Juai Kabupaten Balangan dengan jumlah siswa 7 orang yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. mata pelajaran yang dijadikan bahan penelitian adalah IPA. Dengan dasar pemikiran lemahnya kemampuan pemahaman siswa terhadap materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan. Kemampuan yang akan ditingkatkan diharapkan menjadi modal untuk naik kelas VI dan kelas berikutnya pada jenjang pendidikan dasar.

B. Deskripsi per siklus
Penelitian tindakan kelas ini direncakan dalam dua siklus dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. siklus I
a. Perencanaan (Planning)
1) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan
2) Membuat lembar observasi aktivitas siswa
3) Mempersiapkan alat peraga dan alat pendukung lainnya
4) Membuat instrumen evaluasi untuk mengukur hasil belajar
b. Pelaksanaan tindakan kelas (action)
Tindakan kelas dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dengan menerapkan scenario pembelajaran ( RPP) yang telah direncanakan.
c. Pelaksanaan observasi (Observation)
Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan menggunakan format tertentu. Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan proses dan pengaruh tindakan yang telah diberikan. Hasil observasi dijadikan acuan dalam kegiatan refleksi.
Data diperoleh adalah data aktivitas siswa adalah data hasil belajar siswa.
Cara pengumpulan data
1) Data aktivitas siswa diambil dengan lembar observasi aktivitas siswa
2) Data hasil belajar siswa diambil dengan lembar tes pada setiap tindakan maupun tes akhir siklus
Dengan kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 85% siswa berhasil memperoleh nilai 65 dalam menyelesaikan soal tes akhir siklus pada materi Alat pencernaan makanan dan kesehatan, juga aktivitas siswa terlihat meningkat.
d. Refleksi (Reflection)
Setelah observasi dilakukan maka dilaksanakan refleksi dengan mengkaji. Memperhatikan dan merenungkan kembali hasil atau dampak dari tindakan yang sudah yang sudah dicatat dalam observasi. Hasil analisis data merupakan dasar dalam merevisi rencana untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
2. Siklus II
a. Perencanaan (Planning)
Merumuskan tindakan baru sesuai dengan temuan pada observasi. Semua siswa disusun dan dirumuskan dengan memperhatikan refleksi pada siklus pertama
1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
2) menyusun instrumen evaluasi
3) merumuskan tindakan baru/mengembangkan pembelajaran pada siklus I
b. Pelaksanaan tindakan kelas (action)
Melaksanakan tindakan seperti yang disusun atau dirumuskan pada siklus pertama dengan memberikan remedial/perbaikan dan menyempurnakan strategi. Memberikan bimbingan bagi siswa secara individual dan klasikal.
c. Pelaksanaan observasi (Observation)
Mendokumentasikan proses dan dampak tindakan yang telah diberikan dari awal sampai hasil evaluasi yang dilaksanakan.
d. Refleksi (Reflection)
Refleksi tindakan pada siklus II diterapkan berdasarkan hasil observasi dan evaluasi. diharapkan permasalahan terselesaikan bila permasalahan terselesaikan maka kegiatan dihentikan, jika belum maka dapat dipertimbangkan untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya. Siklus berakhir apabila pola kesulitan dari siklus sudah ditemukan dan dapat diatasi sesuai dengan kriteria yang diterapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tuliskan Nama dan e-mail anda