(PNS Pemkab. Balangan, Direktur STKOM SAPTA COMPUTER)

Senin, 11 Januari 2010

Contoh Skripsi Pendidikan Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan bertujuan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas,benar dan indah dalam kehidupan.(La sulo, 2005 : 37).
Pada hakekatnya pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasilkarya kesustraan manusi Indonesia (Depdiknas, 2006:63).
Peranan bahasa indonesia sangat penting dalam kemajuan Sumber Daya Manusia khususnya kita orang Indonesia, untuk memiliki kemampuan dalam berkomonikasi dalam era informasi dan globalisasi. Ha1 ini sangat di sadari pemerintah, sehingga perlu mengimplementesikan kebijakan pemerintah dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai pengembangan sumber daya manusia. Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990 yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia bidang pendidikan dalam bentuk pengembangan dan peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan guru, murid, dan tenaga kependidikan lainnya.
Peraturan DEPDIKBUD RI nomor 0487/14/1992 yang menyatakan bahwa sekolah dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Sejak dari dulu secara resmi pelajaran bahasa indonesia sudah masuk dalam sistem pendidikan dasar. Sekolah mempunyai wewenang tentang mata pelajaran bahasa indonesia dimasukkan sebagai salah satu pelajaran wajib yang harus di kuasai khususnya kita sebagai warga negara indonesia.
Proses peningkatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh banyak hal, salah satunya adalah kemampuan berbahasa lisan dan tulis. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajaran semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budaya, dan orang lain. Selain itu juga pelajaran bahasa indonesia mampu membantu peserta didik mengemukakan gagasan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analisis dan imajinasi dalam dirinya.
Bahasa indonesia merupakan alat untuk berkomunikasi baik itu secara lisan maupun tulisan. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi secara utuh adalah kemampuan berwacana yakni kemampuan memahami dan digunakan bermasyarakat. Oleh karena itu mata pelajaran bahasa indonesia diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa indonesia pada tingkat literasi tertentu.

Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pengajaran.
Kenyataan di lapangan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kegiatan pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris. Hal ini mengakibatkan siswa kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar.
Melihat kondisi demikian, perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan dan bersahabat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran (Ansori, 2008:2) Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok. Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah dalam tipe ini guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.
Berdasarkan paparan diatas, maka penelitian tentang Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas VI SDN Paringin 2 perlu dilaksanakan. Melalui penelitian diharapkan diperoleh diskripsi yang objektif dan lengkap tentang pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Paringin 2.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses belajar mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar?



2. Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan berpengaruh terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia di kelas VI Sekolah Dasar?
3. Apa saja hambatan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar?

1.3 Tujuan Penelitian
Penulisan ini bertujuan untuk:
1. Memperoleh proses belajar mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar.
2. Mengungkapkan pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia di kelas VI Sekolah Dasar
3. Mengidentifikasi hambatan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar






1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari hasil penulisan ini adalah:
1. Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai salah satu modal pembelajaran yang nantinya dapat diterapkan pada saat terjun langsung di masyarakat.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi siswa, dapat memotivasi siswa dalam beraktifitas atau berpikir secara optimal dalam metode kooperatif agar siswa tidak jenuh dan bosan.















BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
2.1.1 Pengertian Belajar
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (1998:84) mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:
a. belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b. belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
c. untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
d. tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Good dan Brophy dalam Purwanto (1998: 85) mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu "Learning is the deyelopment of new associations as a result ofexperience'". Selanjutnya dijelaskan bahwa "Belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internalevent). Belajar merupakan proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; proses itu terjadi di dalam din seseorang yang sedang mengalami belajar Jadi menurut Good dan Brophy yang dimaksud belajar bukanlah tingkah laku yang nampak, tetapi adalah proses yang terjadi secara internal di dalam diri indiyidu dalam usahanya memperoleh hubungan hubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa: antara perangsang, antara reaksi, atau antara perangsang dan reaksi. Menurut Sardiman (2007 : 22 ) mengatakan bahwa belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya Sedangkan menurut Usman & Setiawati (2001:4) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berikut adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adaalah suatu proses perubahan dalam diri scscorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Menurut Sudjana (2004: 39) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
l. faktor dari dalam diri siswa yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti motivasi, minat, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, bakat dan kemampuan, fisik dan psikis. Faktor ini dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini adalah pancaindra contohnya sakit, cacat tubuh, dan perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor nonintelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyusuaian diri.
c. Faktor kematangan fisik maupun fisikis. (Usman, 2000:10)
2. Faktor dari luar atau lingkungan yaitu faktor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan dimana siswa tersebut berada seperti:
a. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok.
b. Faktor budaya, seperti adat kebiasaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.
d. Faktor lingkungan spritual atau keagamaan.
(Usman, 2000:10)
Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi belajar baik itu faktor intern maupun faktor ekstern sangat menentukan dalam pencapaian hasil belajar siswa. Keberhasilan belajar siswa merupakan tujuan utama dari poses belajar mengajar, untuk itu faktor-faktor tersebut perlu diketahui oleh seorang pendidik atau guru agar bisa mencapai hasil belajar yang optimal.
Menurut Benyamin Bloom (1976:21) mengatakan ada tiga variabel utama dalam belajar di sekolah yaitu karakteristik individu, kualitas pengajaran, dan hasil belajar siswa.
Menurut Caroll (1977:16) menyatakan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh lima faktor yaitu bakat yang dimiliki individu, waktu yang tersedia untuk belajr, waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran, kualitas mengajar dan kemampuan individu.
Uraian di atas menyatakan bahwa hasil belajar berbanding lurus dengan kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. hasil belajar siswa akan baik jika kemampuan individu siswa tinggi dan kualitas pengajarannya juga baik.

2.2 Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD)
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. .(depdiknas, 2006:65)
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.(depdiknas, 2006:7)
Materi yang ada pada pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. serta merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.(depdiknas, 2006:65)
Dalam pembelajaran bahasa indonesia terdapat beberapa komponen yang menunjang proses belajar mengajar dan dapat menentukan hasil belajar tersebut. komponen-komponen dalam proses pembelajaran terdiri dari:
(1) Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.
(2) Bahan pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses beajar mengajar.
(3) Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan Belajar Mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.
(4) Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
(5) Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
(6) Sumber Pelajaran
Sumber belajar adalah bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar.
(7) Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

2.3 Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan adalah suatu jalan, cara, atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran, apabila kita melihatnya dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pelajaran itu di- kelola (Ruseffendi, 1991). Sedangkan menurut Tim MKPMB (2001) pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Jadi pendekatan adalah suatu cara yang dilakukan guru atau siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Nisbet dalam (Tim MKPMB, 2001), tidak ada cara belajar (tunggal) yang paling benar, dan cara mengajar yang paling baik, orang-orang berbeda dalam kemampuan intelektual, sikap, dan kepribadian sehingga mereka mengadopsi pendekatan-pendekatan yang karakteristiknya berbeda untuk belajar. Dari sini dapat dikatakan masing-masing individu akan memilih cara atau gayanya sendiri untuk belajar dan untuk mengajar, namun setidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lainnya.
Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika , yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan yang bersifat materi. Pendekatan metodologik diantaranya adalah pendekatan intuitif, analitik, sintetik, spiral, induktif, deduktif, tematik, realistik, heutistik. Sedangkan pendekatan material yaitu pendekatan pembelajaran matematika di mana dalam penyajian konsep matematika melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki siswa. Adapun contoh lain pendekatan dalam pembelajaran seperti pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kontekstual (CTL), pendekatan open-ended, pendekatan realistik, dan lain-lain (Tim MKPMB, 2001).
Semua pendekatan-pendekatan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan , sehingga dalam pembelajaran baik guru maupun siswa dapat menggunakan pendekatan secara bergantian atau bervariasi. Penggunaan pendekatan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar pada hakikatnya merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar

2.4 Metode Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain.
1. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
2. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.
3. Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.

4. Metode belajar kooperatif
Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 2-4 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.
5. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
6. Metode ekspositori atau pameran
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.


7. Metode karyawisata/widyamisata
Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.
8. Metode penugasan
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
9. Metode eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.

10. Metode bermain peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.
Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
• Kemampuan guru dalam menggunakan metode.
• Tujuan pengajaran yang akan dicapai.
• Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa.
• Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya.
• Sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Setiap metode memiliki kelebihan atau keunggulan dan kelemahan atau kekurangan masing-masing. Oleh karena itu guru harus mampu memilih metode pembelajaran yang sesuai pada saat melakukan kegiatan belajar. Bisa juga guru mengkombinasikan metode mengajar untuk memudahkan dalam penyampaian materi pada saat proses belajar mengajar, sehingga dapat dicapai keoptimalan belajar siswa dan tujuan pembelajaran dapat terpenuhi (Tim MKPMB, 2001).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa peranan metode dalam pembelajaran sangat berpengaruh, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pencapaian suatu tujuan pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, guru harus bisa memilih metode yang sesuai dengan kondisi dan situasi siswa yang akan diajar, supaya tujuan pembelajaran tercapai dengan hasil yang baik.

2.5 Pembelajaran Kooperatif
Sistem pembelajaran kooperatif bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergatungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan proses kelompok. Metode pembelajaran kooperatif disebut juga metode pembelajaran gotong royong. Ironisnya model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok.
Menurut Anshori (2008:3) langkah-langkah model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
Tabel l. langkah - langkah model pembelajaran kooperatif
Fase Tingkah laku guru
fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrsi atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengkoordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranaya membentuk kelompok belajar dan membantu seiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membingbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang pernah di pelajari atau masing masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6
Memberikan Penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok


Menurut Ibrahim (2000:6), Pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih beroentasi kelompok ketimbang individu.
Roger dan David Johnson (1993 : 54) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :
a. Saling ketergantungan positif
b. Tanggung jawab perseorangan
c. Tatap muka
d. Komunikasi antar anggota
e. Evaluasi proses kelompok

2.6 Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan
Teknik mengajar Bercerita Berpasangan (Paired Storylelling) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Bahan pelajaran yang palin cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa diransang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Bercerita berpasangan bisa digunakan untuk suasana tingkatan usia anak didik.
Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan antara lain :
1. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberi hari itu.
3. Siswa dipasangkan.
4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
5. Kemudian siswa disuruh mendengarkan atau membaca bagian mereka masing-masing.
6. Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frasa bisa disesuaikan dengan panjang teks bacaan.
7. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
8. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
9. Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
10. Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
11. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilaksanakan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
(Bandono, 2008 : 3)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tuliskan Nama dan e-mail anda